Rancangan Bimbingan Untuk Seorang Siswa Yang Mempunyai Masalah Di Kelas?

Rancangan Bimbingan Untuk Seorang Siswa Yang Mempunyai Masalah Di Kelas
Page 3 – Setiap sekolah pasti mempunyai siswa yang bermasalah. Mulai dari siswa yang melanggar peraturan kategori ringan hingga yang berat seperti hamil di luar nikah. Lalu, upaya apa yang tepat untuk mengatasi siswa-siswa tersebut? apakah langsung di sangsi sesuai peraturan yang berlaku? ataukah bediskusi dulu dengan muridnya sebab musabab dia malakukan pelanggaran tersebut? Guru BK harus mampu melakukan penanganan yang tepat untuk siswa yang bermasalah.

Ada dua pendekatan dalam penanganan siswa, yaitu pendekatan disiplin dan pendekatan bimbingan serta konseling. Penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan disiplin merujuk pada aturan dan ketentuan (tata tertib) yang berlaku di sekolah beserta sangsinya. Sebagai salah satu komponen organisasi sekolah, aturan siswa beserta sangsinya memang perlu ditegakkan untuk mencegah sekaligus mengatasi terjadinya berbagai penyimpangan perilaku siswa.

Kendati demikian, sekolah bukan “lembaga hukum” yang harus mengobral sanksi kepada siswa yang mengalami gangguan penyimpangan perilaku. Sebagai lembaga pendidikan, justru kepentingan utamanya adalah bagaimana berusaha menyembuhkan segala penyimpangan perilaku yang terjadi pada para siswanya.

  • Misalnya bila ada siswa yang selalu terlambat sekolah diharuskan untuk membaca istighosah di samping gerbang sekolah hingga jam pelajaran kedua berakhir.
  • Bila ada siswa yang merokok di sekolah, mereka diharuskan untuk menulis surat pernyataan tertulis yang ditanda tangani wali murid serta kepala sekolah agar mereka tidak mengulangi perbuatan mereka lagi.

Pendekatan yang kedua yakni pendekatan bimbingan dan konseling. Berbeda dengan pendekatan disiplin yang memberikan sangsi untuk menghasilkan efek jera, penanganan siswa bermasalah melalui bimbingan dan konseling justru lebih mengutamakan pada upaya penyembuhan serta pendekatan dengan menggunakan berbagai layanan dan teknik yang ada.

Penanganan siswa bermasalah melalui bimbingan dan konseling sama sekali tidak menggunakan bentuk sanksi apa pun, tetapi lebih mengandalkan pada terjadinya kualitas hubungan interpersonal yang saling percaya di antara guru BK dan siswa yang bermasalah, sehingga selangkah demi selangkah siswa tersebut dapat memahami dan menerima diri dan lingkungannya, serta dapat mengarahkan diri guna tercapainya penyesuaian diri yang lebih baik.

Misalnya, di sebuah sekolah X ada seorang siswa yang membawa sebungkus ganja dalam tasnya saat ada pemeriksaan rutin di sekolah. Sementara peraturan sekolah dengan jelas melarang membawa barang-barang yang terlarang. Jika hanya mengandalkan pendekatan disiplin, mungkin tindakan yang akan diambil oleh sekolah adalah memanggil orang tua / wali siswa yang bersangkutan dan ujung-ujungnya siswa akan dikeluarkan dari sekolah/dikembalikan kepada orang tua.

Jika tanpa intervensi bimbingan dan konseling, maka sangat mungkin siswa yang bersangkutan akan meninggalkan sekolah dengan dihinggapi masalah-masalah baru yang justru dapat semakin memperparah keadaan. Tetapi, dengan intervensi bimbingan dan konseling di dalamnya, diharapkan siswa yang bersangkutan bisa tumbuh perasaan dan pemikiran positif atas masalah yang menimpa dirinya.

Perlu dipahami, dalam hal ini bukan berarti guru BK yang harus mendorong atau bahkan memaksa siswa untuk keluar dari sekolahnya. Persoalan mengeluarkan siswa merupakan wewenang kepala sekolah dan tugas guru bimbingan dan konseling/ konselor hanyalah membantu siswa agar dapat memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya.

Apakah bimbingan konseling untuk siswa bermasalah saja?

Mengenal Layanan Bimbingan Konseling Sebelum kita masuk ke materi inti, mungkin banyak sekali diantara kalian yang masih bingung atau belum kenal yang namanya Bimbingan Konseling atau BK. Pernah dengar nama BK tapi belum tahu banyak tentang BK, karena banyak sekali beredar info-info yang salah mengenai BK.

Ada yang bilang bahwa BK itu tempatnya anak-anak nakal dihukum, kalau ketahuan merokok,berkelahi, malas, bolos, ya di ruang BK itu anak tersebut dihukum dan guru BK nya sangat galak dan serem. Saking seremnya mungkin hantu aja kalah kali yaa seremnya. Kejadian tersebut menunjukkan seolah-olah guru BK adalah Polisi Sekolah.

Padahal pandangan tersebut adalah keliru. Sekali lagi penulis ulangi pandangan tersebut adalah keliru, guru BK bukanlah Polisi Galak yang selalu mencurigai dan menangkap siapapun yang bersalah. Justru Guru BK adalah sahabat bagi siswa, Kenapa? Karena Guru BK adalah kawan kepercayaan siswa untuk berbagi tentang apa yang dirasakan siswa

  • Guru BK senantiasa menghargai apapun keluhanmu
  • Guru BK akan selalu menerima dirimu dengan segala permasalahanmu
  • Guru BK selalu peduli dengan setiap masalahmu
  • Guru BK akan selalu mencoba memahami masalahmu, serta yang tidak kalah pentingya adalah
  • Guru BK bisa dipercaya menjaga rahasia-rahasiamu

So, jangan ragu ya untuk menemui dan berkonsultasi dengan guru BK, dan jangan takut untuk masuk ke ruang BK, sekali lagi masuk ke ruang BK bukanlah aib. Kegiatan layanan BK diperuntukkan kepada semua siswa dan tidak ada diskriminatif dalam layanan BK, jadi BK tidak hanya untuk siswa yang bermasalah saja.

  • Arena BK merupakan proses individuasi artinya setiap diri kalian adalah unik dan berbeda sehingga melalui Bimbingan Konseling kalian dibantu untuk menjadi diri kalian sendiri secara utuh dan mampu mengembangkan nilai-nilai positif yang ada pada diri kalian dan lingkungan kalian.
  • Pandangan keliru selanjutnya adalah menyamakan BK dengan mata pelajaran,
You might be interested:  Rancangan Gambar Yang Akan Dibuat Disebut?

Jadi, jangan lagi nanti bertanya Bu mapel BK ada tugas kah? Atau hari ini pelajaran BK kah bu? Tetapi bertanyalah seperti ini ” Bu, kita materi BK hari ini tentang apa ya ?” karena BK bukanlah mapel atau mata pelajaran, BK tidak memberikan tugas sehingga BK tidak memberikan penilaian buat kalian baik itu penilaian pengetahuan maupun penilaian keterampilan.

Tetapi BK selalu mendukung keberhasilan kalian dalam bidang akademik maupun non akdemik, karena BK adalah bagian dari pendidikan. BK tidak dapat berdiri sendiri, BK harus bekerjasama dan berkolaborasi dengan semua komponen pendidikan, yaitu, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru mata pelajaran, wali kelas, orang tua dan tenaga ahli.

Pandangan keliru berikutnya adalah menyamakan profesi Guru BK dengan dokter atau psikiater, nah itu juga salah besar, karena yang dihadapi oleh guru bk adalah siswa-siswa normal bukan siswa sakit atau mengalami gangguan kejiwaan. Jikalaupun ada siswa yang sakit atau yang mengalami gejala kejiwaan, contohnya depresi berat maka Guru BK akan melakukan referral atau alih tangan kepada tenaga ahli seperti psikolog, psikiater dan sebagainya.

  1. Arena sudah bukan ranah guru BK.
  2. Nah, dari tadi kita membahas tentang sosok guru BK, sekarang kita juga harus tau apa itu BK BK adalah singkatan dari Bimbingan dan Konseling Bimbingan adalah pelayanan bantuan kepada peserta didik baik secara perorangan maupun kelompok agar kalian mampu mandiri dan berkembang secara optimal dalam bidang pengembangan kehidupan pribadi, sosial, belajar, dan perencanaan karir melalui jenis layanan dan kegiatan pendukung berdasarkan norma-norma yang berlaku.

Kegiatan bimbingan pada umumnya dapat dilakukan secara klasikal dan kelompok dan bersifat umum atau tidak rahasia. Karena pandemic covid-19 maka kegiatan bimbingan dilaksanakan sama seperti mapel pada umumnya yaitu secara daring dengan penyampaian materi pendamping utk memotivasi kalian selama Belajar dari Rumah.

Sedangkan Konseling adalah hubungan profesional yang dilakukan secara tatap muka antara konselor dan konseli Konselor adalah guru BK sedangkan konseli adalah kalian, tujuannya untuk membantu konseli atau kalian memahami dan memperjelas pandangan terhadap ruang lingkup hidupnya sehingga dapat membuat pilihan yang bermakna bagi dirinya.

Dalam konseling Tanggung jawab penyelesaian masalah ada ditangan siswa, artinya siswa yang membuat keputusan untuk penyelesaian masalahnya.

  1. Kegiatan konseling bersifat rahasia dan dilakukan secara tatap muka,tetapi karena pandemi covid-19 maka kegiatan konseling dilakukan melalui media komunikasi seperti telepon, whatsapp, inbox, dll. Kegiatan konseling yang menggunakan media komunikasi kita sebut dengan e counseling atau cyber counseling
  2. Ada beberapa fungsi dari layanan Bimbingan Konseling, secara umum akan kita bahas empat fungsi Bimbingan Konseling
  3. Fungsi yang pertama adalah fungsi pemahaman, maksudnya adalah layanan bimbingan konseling ditujukan agar kalian memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap diri kalian dan lingkungan kalian, baik lingkungan tempat tinggal maupun lingkungan sekolah dan masyarakat
  4. Fungsi yang kedua dari bimbingan konseling adalah fungsi pencegahan, yaitu membantu kalian dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan timbulnya masalah dan berupaya untuk mencegahnya supaya kalian tidak mengalami masalah dalam kehidupan kalian

Fungsi yang ketiga dari Bimbingan konseling adalah fungsi perbaikan dan penyembuhan, maksudnya adalah membantu kalian agar dapat memperbaiki kekeliruan berfikir, berperasaan, berkehendak, dan bertindak. Guru BK akan memberikan perlakuan terhadap kalian supaya kalian memiliki pola fikir yang rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga kalian mampu merencanakan dan melaksanakan tindakan produktif dan normative.

  1. Fungsi yang ke empat adalah fungsi pengembangan yaitu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan kalian melalui pembangunan jejaring yang bersifat kolaboratif.
  2. Nah sebenarnya masih ada beberapa fungsi lainnya dari Bimbingan Konsleing, tapi untuk saat ini empat fungsi itu saja dulu yang kita bahas dan yang terpenting kalian jangan salah paham lagi mengenai haikat Bimbingan dan Konseling di sekolah.

Masih ingin kenal lebih dalam lagi tentang bimbingan konseling? Yuk, kita intip apa tujuan dari layanan bimbingan konseling. Tujuan Layanan Bimbingan Konseling. Tujuan umum dari kegiatan layanan bimbingan dan konseling adalah membantu peserta didik agar dapat mencapai kematangan dan kemandirian dalam kehidupannya serta menjalankan tugas-tugas perkembangannya yang mencakup aspek pribadi, sosial, belajar, karir secara utuh dan optimal.

  1. Memahami dan menerima diri dan lingkungannya
  2. Merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir, dan kehidupannya dimasa yang akan dating
  3. Mengembangkan potensinya seoptimal mungkin
  4. Menyesuaikan diri dengan lingkungannya
  5. Mengatasi hambatan atau kesulitan dalam kehidupan
  6. Mengaktualisasikan diri secara bertanggung jawab.
You might be interested:  Setiap Rancangan Harus Memperhatikan Aspek Yang Bersifat Berkelanjutan?

Asas – asas dalam layanan Bimbingan Konseling

  1. Asas Kerahasiaan, yaitu asas layanan yang menuntut konselor atau guru bimbingan konseling merahasiakan segenap data dan keterangan tentang peserta didik sesuai dengan kode etik bimbingan konseling
  2. Kesukarelaan, yaitu asaskesukaan dan kerelaan peserta didik mengikuti layanan yang diperlukannya
  3. Keterbukaan, yaitu asas layanan guru bimbingan konseling yang bersifat terbuka dan tidak berpura-pura dalam memberikan dan menerima informasi.
  4. Keaktifan, yaitu asas layanan guru bimbingan konseling kepada peserta didik yang memerlukan keaktifan dari kedua belah pihak
  5. Kemandirian, yaitu asas layanan guru bimbingan konseling yang merujuk pada tujuan agar peserta didik mampu mengambil keputusan pribadi, belajar, sosial, dan karir secara mandiri.
  6. Kekinian, yaitu asas layanan guru bimbingan konseling yang berorientasi pada perubahan situasi dan kondisi masyarakat.
  7. Kedinamisan, yaitu asas layanan guru bimbingan konseling yang berkembang dan berkelanjutan ya ng memandang tentang hakikat manusia, kondisi-kondisi perubahan perilaku, serta proses dan teknik bimbingan konseling sejalan perkembangan ilmu bimbingan konseling.
  8. Keterpaduan, yaitu asas layanan guru bimbingan konseling yang terpadu antara tujuan bimbingan konseling dengan tujuan pendidikan dan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi dan dilestarikan oleh masyarakat.
  9. Keharmonisan, yaitu asas layanan guru bimbingan konseling yang selaras dengan visi dan misi sekolah, nilai dan norma kehidupan yang berlaku di masyarakat.
  10. Keahlian, yaitu asas guru bimbingan konseling berdasarkan atas kaidah-kaidah akademik dan etika professional, dimana layanan bimbingan dan konseling hanya dapat diampu oleh tenaga ahli bimbingan konseling.
  11. Tut wuri handayani, yaitu asas pendidikan yang mengandung makna bahwa guru bimbingan konseling sebagai pendidik harus memfasilitasi setiap peserta didik untuk mencapai tingkat perkembangan yang utuh dan optimal.

Jadi, sekali lagi penulis tekankan jangan pernah ragu atau pun takut untuk menghubungi guru BK kalian, karena pada masa pendemi covid-19 peran guru BK sangat besar untuk menekan dampak gangguan mental siswa selama Belajar Dari Rumah : Mengenal Layanan Bimbingan Konseling

6 Langkah bimbingan konseling?

Prosedur Umum Layanan Konseling

  • Sebagai sebuah layanan profesional, konseling tidak dapat dilakukan secara sembarangan, namun harus dilakukan secara tertib berdasarkan prosedur tertentu, yang secara umum terdiri dari enam tahapan sebagai, yaitu: (A) Identifikasi kasus ; (B) Identifikasi masalah ; (C) Diagnosis ; (D) Prognosis ; (E) Treatment ; (F) Evaluasi dan Tindak Lanjut.
  • A. Identifikasi kasus
  • Identifikasi kasusmerupakan langkah awal untuk menemukan peserta didik yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. Robinson (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi peserta didik yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan dan konseling, yakni :
  1. Call them approach ; melakukan wawancara dengan memanggil semua peserta didik secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan peserta didik yang benar-benar membutuhkan layanan konseling.
  2. Maintain good relationship; menciptakan hubungan yang baik, penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru pembimbing dengan peserta didik. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja, misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler, rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya.
  3. Developing a desire for counseling; menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran peserta didik akan masalah yang dihadapinya. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan peserta didik yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes, seperti tes inteligensi, tes bakat, dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya.
  4. Melakukan analisis terhadap hasil belajar peserta didik, dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi peserta didik.
  5. Melakukan analisis sosiometris, dengancaraini dapatditemukan peserta didik yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial.

B. Identifikasi Masalah Langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis, karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi peserta didik. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar, permasalahan peserta didik dapat berkenaan dengan aspek : (1) substansial – material; (2) struktural – fungsional; (3) behavioral; dan atau (4) personality.

Untuk mengidentifikasi kasus dan masalah peserta didik, Prayitno dkk. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik, dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Instrumen ini sangat membantu untuk menemukan kasus dan mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik, seputar aspek : (1) jasmani dan kesehatan; (2) diri pribadi; (3) hubungan sosial; (4) ekonomi dan keuangan; (5) karier dan pekerjaan; (6) pendidikan dan pelajaran; (7) agama, nilai dan moral; (8) hubungan muda-mudi; (9) keadaan dan hubungan keluarga; dan (10) waktu senggang.C.

You might be interested:  Buatlah Rancangan Teks Prosedur Dengan Langkah-Langkah Yang Tepat?

Diagnosis Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor penyebab kegagalan belajar peserta didik, bisa dilihat dari segi input, proses, ataupun out put belajarnya.W.H.

Burton membagi ke dalam dua faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar peserta didik, yaitu : (1) faktor internal; faktor yang besumber dari dalam diri peserta didik itu sendiri, seperti : kondisi jasmani dan kesehatan, kecerdasan, bakat, kepribadian, emosi, sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya; dan (2) faktor eksternal, seperti : lingkungan rumah, lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya.D.

Prognosis Langkah ini dilakukan untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami peserta didik masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya, Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga.

  1. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus, dengan melibatkan pihak-pihak yang terkait dengan masalah yang dihadapi siswa untuk diminta bekerja sama guna membantu menangani kasus – kasus yang dihadapi.E.
  2. Treatment Langkah ini merupakan upaya untuk melaksanakan perbaikan atau penyembuhan atas masalah yang dihadapi klien, berdasarkan pada keputusan yang diambil dalam langkah prognosis.

Jikajenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru pembimbing atau konselor, maka pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri (intervensi langsung), melalui berbagai pendekatan layanan yang tersedia, baik yang bersifat direktif, non direktif maupun eklektik yang mengkombinasikan kedua pendekatan tersebut.

  1. Namun, jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing/konselor sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten (referal atau alih tangan kasus).
  2. F. Evaluasi dan Follow Up
  3. Cara manapun yang ditempuh, evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya tetap dilakukan untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan ( treatment ) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik.
  4. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling, Depdiknas (2003) telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu:
  1. Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas;
  2. Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan, dan
  3. Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya.

Sementara itu, Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2004) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan, yang terbagi ke dalam kriteria yaitu kriteria keberhasilan yang tampak segera dan kriteria jangka panjang. Kriteria keberhasilan tampak segera, diantaranya apabila:

  1. Peserta didik (klien) telah menyadari ( to be aware of ) atas adanya masalah yang dihadapi.
  2. Peserta didik (klien) telah memahami ( self insight ) permasalahan yang dihadapi.
  3. Peserta didik (klien) telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif ( self acceptance ).
  4. Peserta didik (klien) telah menurun ketegangan emosinya ( emotion stress release ).
  5. Peserta didik (klien) telah menurun penentangan terhadap lingkungannya
  6. Peserta didik (klien) telah melai menunjukkan sikap keterbukaannya serta mau memahami dan menerima kenyataan lingkungannya secara obyektif.
  7. Peserta didik (klien) mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan, mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional.
  8. Peserta didik (klien) telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha –usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya, sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya.
  9. Sedangkan kriteria keberhasilan jangka panjang, diantaranya apabila:
  10. Peserta didik (klien) telah menunjukkan kepuasan dan kebahagiaan dalam kehidupannya yang dihasilkan oleh tindakan dan usaha-usahanya.
  11. Peserta didik (klien) telah mampu menghindari secara preventif kemungkinan-kemungkinan faktor yang dapat membawanya ke dalam kesulitan.
  12. Peserta didik (klien) telah menunjukkan sifat-sifat yang kreatif dan konstruktif, produktif, dan kontributif secara akomodatif sehingga ia diterima dan mampu menjadi anggota kelompok yang efektif.

Sumber: Abin Syamsuddin Makmun.2003. Psikologi Pendidikan, Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Depdiknas, 2004. Dasar Standarisasi Profesi Konseling, Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti Prayitno, dkk.2004. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling, Jakarta: Depdiknas. ========== Baca: -7.002979 108.457279 : Prosedur Umum Layanan Konseling

4 Langkah bimbingan konseling?

Menurut Prayitno (1995) bahwa ‘ Tahap – tahap bimbingan kelompok ada empat tahap, yaitu : tahap pembentukan, tahap peralihan, tahap kegiatan dan tahap pengakhiran’.