nothing is impossible

Ketika Hidayah Menyapa

hidayah menyapa

Hidayah Hanya Milik Allah

Terbukanya hati seseorang merupakan milik Allah SWT semata, dan tidak ada orang yang bisa campur tangan dalam urusan itu.  “Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya.” (QS. Yusuf : 103).

Saya Yang Dulu

Dari dulu sampai sekarang, alhamdulilah saya seorang muslim yang taat. Tapi tidak terlalu taat juga, ya yang menjadi kewajiban saya laksanakan. Untuk ibadah yang lain seperti ibadah sunnah saya masih malas-malasan karena mungkin tidak tahu juga, pengetahuan hanya seadanya saja sebatas yang di ajarkan di pengajian.

aku yang dulu

Karena dulu saya belum tahu adanya internet, adanya ceramah di tv, bahkan hp pun tidak punya. Kalau untuk shalat getol, tetapi dalam maksiat juga getol. Hehe, tapi gak sampai yang dosa besar juga yaa sekedar sering nonton tv, lalai dalam shalat pokoknya hal-hal yang tidak bermanfaat.  Astagfirullah.

Dalam artikel saya kali ini, saya akan menceritakan bagaimana petunjuk/hidayah yang Allah berikan yang menuntun saya dan keluarga saya ke jalan yang benar, insyaAllah.

Kita sering berfikiran bahwa hidayah itu yang dulunya buruk seperti suka mabuk, zina, pengedar narkoba dain lain-lain menjadi soleh. Itu juga memang benar, tapi hidayah yang Allah berikan kepada saya berupa ilmu dalam beragama yang benar sesuai sunnah nabi Muhammad SAW.

Perantara Hidayah Yang Allah Tunjukkan

Kami merupakan keluarga yang sederhana, saya sebagai anak ketiga dari dua bersaudara. Hidup rukun adalah moto kami, mungkin karena sudah merasakan asam garam dalam berumah tangga. Seakan ayah dan ibu saya selalu adem ayem dalam rumah tangga, pokoknya  rukun-rukun aja. Namun dalam kerukunan itu keluarga kami masih kurang dalam hal beragama. Seperti yang saya bilang tadi karena ilmunya ya itu-itu aja, entah benar atau tidak.

Menjaga keluarga dari api neraka

Tetapi dalam keluarga kami tidak terlalu harus mengikuti yang di ajarkan oleh nenek moyang kami. Lebih mentaati ceramah yang di berikan ustadz di pengajian. Karena ada sebagian keluarga yang harus mentaati sebuah perbuatan atau keyakinan yang dianut oleh nenek moyang mereka, istilahnya harus turun-temurun dilakukan.

Sama seperti saya, dalam beribadah wajib kami wajib laksanakan. Namun sering juga melaksanakan hal-hal yang tidak bermanfaat, seperti sering menonton tv, kadang keluar rumah gak pake hijab dan lainnya.

Saat Hidayah Menyapa

Saat itu kakak saya membeli sebuah parabola karena tv di rumahnya jelek tampilannya. Tentu lebih asik dan rame apabila siaran tv nya jernih. Kemudian Kami semua mamasang juga namun hanya membeli receiver nya karena satu parabola saja sudah cukup.

ketika hidayah menyapa

Setelah pasang parabola, kami masih sering nonton sinetron bahkan di jadwal setiap malam. Suara Quran pun jarang terdengar di rumah kami. MasyaAllah. Lumayan lama dengan keadaan tersebut. Karena hidayah Allah itu dimana, dan kapan saja, dan lewat perantara apapun. Saat itu ketika kami menonton tv tidak sengaja ke saluran tv ceramah,  karena baru tahu juga ada siaran ceramah kami semua menyimak dan mendengarkan apa yang di sampaikan oleh sang ustadz.

Sempat khawatir juga, karena sekarang sudah beragam aliran agama yang menyesatkan, tetapi sast di dengarkan isi ceramah ini sama dengan yang disampaikan ustadz di pengajian. Cuman bedanya kalau yang di tv hadits dan Al Qurannya di bacakan. Keesokan harinya kami dengarkan ceramahnya lagi, karena selain ceramah tv tersebut diselingi dengan iklan yaitu murottal Quran dan hadits-hadits.

Kun Fayakun

Ketika Allah berkata Kun Fayakun maka jadilah walaupun dengan tidak masuk akal sekalipun. Dimasukan lah hidayah itu dengan perantara parabola dan tv ceramah. Sedikit demi sedikit kami sekeluarga mulai meninggalkan siaran sinetron dan lebih sering tv ceramah.

nothing is impossible

Yang membuat kami percaya adalah sang ustadz berceramah tetapi lengkap dengan hadits dan Al Quran nya. Tentu selain dari Al Quran dan hadits nabi maka itu tidak benar dan salah. Kami perhatikan dan laksanakan amalan yang di sampaikan di ceramah itu. Anehnya setelah kami semua melaksanakan amalan itu terasa mudah dan nikmat, pokoknya beda dengan yang sebelumnya.

Yang dulu sering menonton sinetron, sekarang gak di tonton bahkan di hapus channelnya. Tv keseharian kami selalu ceramah dan bacaan Al Quran. Yang dulu ibu dan kakak saya keluar rumah tanpa hijab, jadi memakai hijab. Kalau untuk saya mulai berbeda dari segi fisik juga, karena berjenggot itu sunnah, sekarang berjenggot walaupun banyak yang tidak suka bahkan dibuly juga.

hari kesabaran

Intinya kami semua hijrah menuju yang lebih baik. Karena setan itu lebih menginginkan kita berbuat maksiat dan hal yang tidak berguna. Setan tersebut membuat pengikutnya agar yang saya lakukan ini tidak lama. Memang benar ketika kita mulai hijrah maka cobaan akan merambah.

Kalau saya pribadi memang banyak yang tidak suka ketika saya mulai berjenggot, ada yang bilang jelek, kayak kambing, bahkan disebut ISIS, masyaAllah. Kadang-kadang suka terpancing dan mau menghilangkan atau mencukur jenggot ini, tapi Allah meyakinkan dan mengokohkan hati saya untuk tetap teguh di atas sunnah.

hidayah milik allah

Setelah semua tentu banyak yang dirasakan oleh kami setelah berhijrah, diantaranya hati menjadi lebih tenang, keluarga kami dijaga keharmonisannya dan untuk saya sendiri untuk segala kegiatan dan pekerjaan serasa lebih mudah.

Semoga Allah memberikan hidayahnya secara terus-menerus kepada keluarga saya dan kalian juga agar menjadi hamba yang selamat dan selalu taat kepadanya.

Leave a Comment