jalani dan nikmati yang dulu dibenci

Dulu Dibenci Sekarang Jadi Profesi (Part 1)

jalani dan nikmati yang dulu dibenci

Begitulah hidup, tidak semua yang kita inginkan akan terpenuhi. Malah, apa yang kita tidak sukai dan dibenci menjadi bagian dari hidup kita sendiri. Akan tetapi jangan salahkan takdir dan jalan hidup ini, jalani saja dan nikmati. Karena Allah lebih tahu apa yang baik bagi hambanya, walalupun menurut kita, itu tidak baik.

Inilah jalan takdir hidupku, yang telah Allah pilihkan yang terbaik bagi hambanya yang lemah ini. Terus bermuhasabah diri dan melihat diri yang lemah ini, agar kita tahu dan menyadari siapa diri ini, dan untuk apa kita hidup di dunia ini. Dengan begitu, akan muncul sifat tawakal dan tawadhu dalam diri kita.

Untuk senantiasa menerima dan berserah diri, apa yang telah Allah takdirkan, dengan sifat tawadhu akan menumbuhkan sifat rendah hati untuk tidak sombong dan menyadari bahwa semua nikmat yang didapat, semua dari Allah SWT.

This Is My Story Of Life

Saya sekarang adalah seorang newbi alias pemula di dunia blogging, sebagai seorang penulis artikel, yang belajar di sebuah pesantren Sintesa. Baru dengarkan ? Ada sebuah pesantren yang mempelajari blogging dan dengan nama yang asing. Karena biasanyakan nama sebuah pesantren itu adalah nama-nama yang bagus seperti nama para sahabat nabi, ulama, atau nama bagus lainnya dengan bahasa Arab.

pesantren sintesa
arraziibrahim.com

Tenang, saya akan ceritakan semuanya dengan detail, bagaimana saya bisa menjadi seorang santri dan seorang blogger, walaupun yang baru pemula. Haha.
Disini saya akan menceritakan kembali tentang pengalaman pribadi, yaitu dimana saya yang dulu ketika sekolah tidak bisa mengarang tulisan dan agak sedikit benci pokoknya apabila ada tugas membuat karangan tulisan.

Akan tetapi, yang anehnya setelah saya lulus dari sekolah, justru menjadi profesi saya sekarang yaitu mengarang tulisan atau bisa disebut seorang blogger, yang pastinya harus bisa mengarang sebuah tulisan yang bagus agar disukai banyak orang (membuat artikel). Daripada penasaran langsung saja simak ceritanya.

Long Time Ago

Frend, kita dari SD sudah diajari nuliskan, nulis PR, nulis cerita ataupun apalah, pasti sudah diajari ketika kita di bangku sekolah. Yap, bukan tidak ada manfaat atau apa, kita diajari untuk bisa menulis. Dengan menulis kita bisa berkomunikasi.

dulu dibenci sekarang menjadi karya tulis

Dengan menulis kita bisa berkarya, novel, cerpen, puisi, dan masih banyak lagi dari hasil karya sebuah tulisan. Kita bisa mengeksplor dan membagi ilmu kita dalam tulisan, dan dengan tulisan juga, kita bisa menjadi siapapun, karena kita yang menjadi sutradaranya (yang membuatnya).

Dengan tulisan, juga bisa menjadi sebuah penghasilan. Seperti seorang penulis buku, artikel dan masih banyak lagi hasil dari hanya kita bisa menulis. Tentunya menulis dengan tulisan yang bagus dan berkelas tidak dengan tulisan asal-asalan. Kalau asal-asalan sih saya juga bisa. Haha.

Akan tetapi dari semua manfaat dan apa yang akan didapatkan, dari seseorang yang bisa menulis, tidak membuat saya tertarik untuk berkecimpung di dunia tulis-menulis. Kalau menulis yang ada di papan tulis sih bisa, bahkan tulisan saya bagus. Yang saya tidak bisa adalah mengarang tulisannya, seperti menulis pengalaman, cerpen, pokoknya tulisan yang dikarang sendiri.

Dari SD Sampai SMK Paling Gak Bisa Membuat Karangan Tulisan, Serius

karangan tulisan yang dulu dibenci
pexels.com

Dari mulai SD saya tidak bisa yang namanya mengarang tulisan, setiap ada pekerjaan rumah atau PR tentang mengarang cerita dan liburan, saya selalu meminta ibu atau kakak saya yang bercerita, saya hanya tinggal menulis. Hehe  (namanya juga masih SD).

Karena sering dibantu, alhamdulilah tuh, prestasi saya mulai meningkat dari kelas 1 mendapat peringkat 2 (dua), kata guru saya sih sebenarnya saya itu bisa mendapat peringkat 1 (satu). Cuman, karena saya waktu kecil paling hobi yang namanya hujan-hujanan si ibu guru wali kelas  ini sering melihat saya (karena kita sekampung), jadi itu sebuah penilaian juga kata si ibu gurunya.

Padahalkan itu di luar pelajaran, kok jadi penilaian yah, dan anehnya penilaian itu hanya untuk saya seorang, dan tidak melihat saingan saya yang ranking satu, yang justru berbeda kampung dengan ibu guru tersebut. Anehkan, harusnya yang dekat dulu yang diprioritaskan, (maksudnya bukan ingin di nomor satukan) tetapi ya harus sportiflah melihat dari nilai dan sikap di dalam kelas.

penilaian guru dulu dibenci
pexels.com

Tapi ini sebaliknya. Cuman gara-gara sering melihat saya hujan-hujanan lho. Emm, entahlah. Nah pas dibagiin rapot ketika kenaikan kelas, si ibu wali kelas ini berbicara kepada ibu saya, kira-kira begini obrolannya.

Ibu wali kelas : ” maaf ya bu, sebenarnya anak ibu ini bisa mendapat peringkat satu. Karena nilainya sama-sama paling tinggi di kelas. Akan tetapi, saya sering melihat anak ibu bermain sambil hujan-hujanan, untuk itu saya kurangi dari nilai sikapnya ya “.

Ibu saya : ” oh gitu, ya sudahlah kalau begitu, tidak apa-apa alhamdulilah juga Deni mendapat peringkat ke dua (dalam hati ibu saya sih, cuman gara hujan-hujanan jadi penilaian)”. Harusnya kalau begitu penilaiannya harus melihat juga semua anak bagaimana sikapnya di luar kelas.

(curhat dikit gapapa ya, kali aja guru saya ini baca juga, abisnya sedikit kesel juga sih). Haha.

Setelah itu naiklah ke kelas 2, tentu wali kelasnya pun berbeda. Disini ibu guru wali kelasnya berbeda kampung dengan saya, alhamdulilah tuh dikelas 2 saya mendapat peringkat satu. Tuhkan, aneh, dengan nilai yang sama-sama paling tinggi, saya yang menjadi juara satu. Kata wali kelasnya sih bahwa saya nilai lebihnya karena rajin. Nah kalau wali kelas yang ini baru sportif karena melihat dan menilai ketika di kelas.

dulu dibenci jadi juara
ningcipta.blogspot.com

Padahal gurunya beda kampung lho, sedangkan guru yang sekampung (bisa disebut juga tetangga-lah) malah orang lain yang diunggulkan. Sudahlah. Yang berlalu biarlah berlalu.

Lanjut ketika saya masuk ke SMP, sebenarnya bukan SMP sih, tapi saya masuk ke MTS (Madrasah TSanawiyah). Disini juga sama, ketika ada tugas mengarang tulisan dan pekerjaan rumah, saya sering minta bantuan ke kakak saya, atau teman saya di kelas.

Tetapi alhamdulilah disini tidak terlalu banyak tugas mengarang, tetapi lebih banyak hafalan juz amma,secara inikan tsanawiyah bro. Kemudian lulus, dan saya melanjutkan sekolah ke SMK.

Di SMK, secara siswa SMK mayoritas laki-laki semua tuh, tetapi karena saya masuknya jurusan komputer, banyak perempuannya juga bro, ya setengah-setengah lah. Kalau ada perempuannya enak tuh (eits jangan berfikiran negatif dulu) maksud saya enak disini, mereka sering bantuin ngerjain tugas bro. Haha

waktu smk yang dulu dibenci

Karena saya tidak bisa mengarang tulisan dan kurang suka (benci) juga ketika ada tugas membuat karangan tulisan, Kadang-kadang saya diemin tuh tugas (bodo amat), tetapi ada inisiatif tuh. Saya minta aja minta dibantuin dan dibuatin tugas ngarang ini ke cewe-cewe. Selamat deh tuh dari ngarang-mengarang dan nilai dari guru.

Kalau ke kakak teruskan gak enaklah, masa udah SMK masih minta dibantuin ngerjain tugas sih, dan lagian kakak saya punya kesibukan sendiri jugakan. Dan itu terus menerus seperti itu selama tiga tahun, alias sampai lulus. Karena temen-temen di SMK ini solidaritasnya tinggi bro. Beneran. Karena kata mereka, buat apa egois mentingin nilai sendiri, sementara ada temen yang tidak lulus.

To be continue.

Leave a Comment