Rancangan Strategi Proses Pembelajaran Di Kelas Yang Terdapat Anak Autis?

Rancangan Strategi Proses Pembelajaran Di Kelas Yang Terdapat Anak Autis
8. Lakukan pemetaan dan selanjutnya lakukan modifikasi perilaku yang ada pada anak autis. – Dengan kita tahu pola perilaku yang biasa dilakukan anak-anak autis, maka itu akan bisa menjadi salah satu cara kita untuk bisa mengajarkan dan memberikan pengajaran yang terbaik untuk anak-anak autis.

  1. Jangan takut untuk salah, karena kesalahan itu adalah bagian dari proses agar anak-anak yang jadi tujuan kita benar-benar bisa mudah memahami apa yang kita ajarkan.
  2. Ingat satu hal, bahwa apapun kondisi anak-anak kita dia tetaplah buah hati kita.
  3. Mereka adalah titipan dari Sang Maha Kuasa, sehingga mereka juga berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Jangan menyerah dan tetap semangat dalam memberikan pelajaran pada anak-anak autis. Karena setiap anak pasti memiliki kelebihan masing-masing, dengan sabar dan tanpa menyerah pasti kita akan tahu bagaimana cara terbaik untuk memberikan pendidikan pada anak-anak yang mengalami autis.

Namun, jika anda sebagai orang tua tidak memiliki untuk secara konsisten memberikan pendidikan pada putra – putri kalian yang mengalami autis. Jangan ragu untuk mencoba berkonsultasi dengan kami Laskar UI Homeschooling. Kami adalah lembaga bimbingan belajar dan model pendidikan Homeschooling yang akan bisa menjadi media perantara bagi anda sebagai orang tua dengan anak-anak yang menderita autis.

Bapak atau ibu hanya tinggal melihat website berikut : dan pastikan bahwa anda telah berdiskusi dan konsultasi secara tuntas terkait kondisi anak anda. Karena dari situlah pengajar di Laskar UI Homeschooling akan mencoba merancang metoda belajar terbaik untuk putra putri anda yang mengalami autis.

  • Erjasama dan saling bantu itulah yang patut menjadi perhatian kita, karena kita harus yakin dan percaya bahwa anak-anak autis pun memiliki masa depan.
  • Dan kita sebagai orang yang sayang dan peduli terhadapnya bersama-sama untuk mewujudkan masa depan mereka dengan cukup baik.
  • Jadi jangan tunda untuk mencoba berkonsultasi untuk memberikan pengajaran yang terbaik bagi putra putri bapak/ibu demi kemajuan anak-anak kita yang diberikan kekhususan dalam hal autis.

: 8 Strategi Mengajar Untuk Anak Autis

Mengapa kita harus memberikan pendidikan bagi anak autis?

Pentingnya Pendidikan untuk Anak Autisme Deddy Sinaga | CNN Indonesia Sabtu, 06 Jan 2018 09:23 WIB Jakarta, CNN Indonesia – Autisme merupakan gangguan perkembangan saraf yang sangat kompleks pada anak. Gangguan tersebut sudah mulai timbul sebelum anak berusia tiga tahun ditandai dengan sulitnya anak berinteraksi dan berkomunikasi dengan dunia luar secara efektif.

Gangguan autisme sudah menjadi sesuatu hal yang banyak terjadi akhir-akhir ini di lingkungan masyarakat. Tetapi, masih banyak masyarakat yang belum terlalu paham dan tidak terlalu peduli dengan gangguan autisme yang ada di sekitarnya. Masyarakat menganggap dan memperlakukan mereka sama seperti anak normal lainnya.

Banyak masyarakat yang menganggap bahwa anak yang sudah terkena autisme tidak bisa disembuhkan. Memang, anak yang sudah mengidap gangguan autisme sampai saat ini belum bisa disembuhkan. Tetapi bukan berarti tidak ada cara untuk menangani gangguan tersebut.Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendidik dan membuat anak autis berperilaku layaknya anak normal lainnya.

  • Seperti memberikan terapi-terapi untuk mereka.
  • Atau memasukkan mereka ke sekolah.
  • Ada beberapa terapi yang bisa diikuti oleh anak autisme:- Terapi Biomedik – Terapi Okupasi – Terapi Perilaku – Terapi Fisik – Terapi Wicara – Terapi Visual – Terapi Bermain – Terapi Perkembangan – Terapi Musik – Applied Behavioral Analysis (ABA) Seperti yang sebelumnya telah disebutkan, selain menjalani proses terapi anak autisme juga dapat ditangani dengan memasukkan mereka ke sekolah.

Ruang lingkup sekolah yang dimaksud dalam hal ini adalah sekolah yang dapat memahami dan menyesuaikan dengan keadaan mereka. Salah satu sekolah yang memenuhi standar tersebut adalah Sekolah Dasar Negeri 18 Pagi Slipi yang terletak di daerah Jakarta Barat.

  1. Di SDN 18 Pagi Slipi ini ada seorang guru wanita yang menjadi pembimbing sekaligus pengajar untuk kelas inklusi yang dibuka di sekolah ini.
  2. Guru tersebut bernama Ibu Lina.
  3. Beliau merupakan salah satu pekerja sosial dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia.
  4. Berawal dari menjadi salah satu pekerja sosial, beliau sekarang ini menjadi salah satu guru di SDN 18 Pagi Slipi.

Bermula pada sekitar tahun 2013, Ibu Lina mendapat tanggung jawab untuk turun ke wilayah Slipi sebagai pengajar dan pembimbing untuk kelas inklusi. Karena pada tahun 2013, hanya SDN 18 Pagi Slipi yang membuka kelas inklusi di wilayah Slipi. Pada awalnya, Ibu Lina mengajar bersama dengan teman-teman lainnya dari universitas lain.

Tetapi, seiring berjalannya waktu hanyalah Ibu Lina sampai saat ini yang bertahan sebagai pengajar untuk kelas inklusi di SDN 18 Pagi Slipi. Ibu Lina merupakan guru yang wara-wiri di sekolah tersebut. Karena Ibu Lina, mengajar bukan hanya untuk satu kelas melainkan untuk kelas 1 sampai kelas 6 SD. Ibu Lina menceritakan bahwa dalam berkomunikasi dengan anak-anak berkebutuhan khusus bukanlah hal yang mudah, dalam setiap berkomunikasi menggunakan cara-cara atau metode yang berbeda-beda pada setiap anaknya.Ada anak yang senang diajak mengobrol, ada yang senang berkomunikasi jika diajak bermain.

Ibu Lina mengatakan, “Di sekolah kami ini, kami menerima anak-anak dengan berbagai macam keterbatasan yang mereka punya. Seperti tuna rungu, tuna wicara bahkan ada yang tuna grahita. Serta kami juga menerima anak-anak dengan gangguan autisme ringan.” Jadi tidak heran, jika dalam proses berkomunikasinya pun kepada tiap anak itu berbeda-beda.SDN 18 Pagi Slipi hanya menerima anak dengan gangguan autisme ringan, karena untuk anak dengan gangguan autisme yang sudah tingkat atas seharusnya dimasukkan ke sekolah yang memang dikhususkan untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

  • Arena pada dasarnya, SDN 18 Pagi Slipi ini merupakan sekolah dasar regular yang masih terdapat anak-anak normal lainnya.
  • Untuk anak dengan gangguan autisme ringan, Ibu Lina menceritakan bahwa anak-anak tersebut tetap dimasukkan dan dibaurkan ke dalam kelas dengan anak-anak normal lainnya.
  • Tidak ada perbedaan dalam kurikulum pelajaran yang mereka dapatkan.

Hanya saja, ada beberapa waktu Ibu Lina mengumpulkan anak-anak dengan gangguan autisme riangan di satu ruangan dan mengajarkan mereka kembali mengenai pelajaran yang sudah mereka dapatkan di dalam kelas. Dalam pengajarannya pun tentu berbeda-beda, ada yang bisa diajarkan melalui gambar-gambar, ada yang diajarkan melalui buku fase huruf-huruf bahkan ada yang bisa diajarkan dengan bermain terlebih dahulu.

  • Anak dengan gangguan autisme ringan kan tangannya suka tidak bisa diam ya, jadi saya selalu memberikan mereka pekerjaan seperti belajar menulis atau menggambar.
  • Arena takutnya jika tidak diberi pekerjaan, tangannya akan jahil kepada teman-temannya,” ujar Ibu Lina.
  • Menurut Ibu Lina, anak yang memiliki ganguan autisme bisa berprestasi di bidang akademik maupun non-akademik.

Banyak murid beliau yang berprestasi, contohnya salah satu muridnya ada yang berprestasi di bidang olahrga maupun di bidang dakwah.Anak-anak dengan gangguan autisme, tetap harus mendapatkan pendidikan karena dengan pendidikan itulah yang membuat mereka dapat berperilaku layaknya anak-anak normal lainnya.

  1. Dalam memberikan pendidikan kepada anak autisme, tidak hanya memasukkan mereka ke dalam sekolah tetapi harus juga diiringi dengan pendidikan dari orangtua serta keluarganya.
  2. Arena peran orangtua sangat penting di sini, orangtua harus lebih perhatian pada perkembangan anaknya.
  3. Maunya kita adanya kesadaran lingkungan, dan orang tua.

Orang tua menganggap anak dengan berkebutuhan khusus itu seperti apa ya masih kurang menerima. Kebanyakan orangtua di sekolah ini seperti hanya menitipkan anak di sekolah ini tapi kurang memerhatikan lebih lanjut kemampuan anaknya. Padahal kita sudah bekerjasama untuk selalu berkomunikasi dengan orangtua murid mengenai perkembangan si anak,” ujar Ibu Lina.

Pada dasarnya orang tua menjadi kunci dalam setiap perkembangan sang anak. Dalam situasi seperti ini, orang tua harus lebih bisa menerima terlebih dahulu keadaan sang anak dan keadaan keluarga mereka. Karena jika orang tua sudah bisa menerima keadaannya, orang tua mampu untuk menindaklanjuti kehidupan mereka dengan sang anak.

Anak adalah titipan dari Tuhan Yang Maha Esa, apapun yang didapat itu adalah rezeki dari Tuhan. Orang tua harus bisa menerima, mendidik, dan memberikan yang terbaik untuk anaknya. Karena setiap anak mempunyai kelebihan masing-masing yang dapat membuat mereka berbeda dengan yang lainnya.

Anak autis Apa bisa sekolah?

Kebanyakan anak pengidap autisme biasanya bersekolah di sekolah khusus, tak banyak memang para orangtua yang berani menyekolahkan mereka di sekolah umum. Padahal, anak dengan autisme tetap bisa bersekolah di sekolah umum. Namun, moms harus memperhatikan beberapa hal agar anak autis dapat bersekolah di sekolah umum.

  1. Seperti yang dijelaskan Dessy Arnas selaku professional Image Coach President Elect ICF Jakarta, anak berkebutuhan khusus dapat belajar di sekolah umum namun harus selalu mendapatkan pendampingan.
  2. Agar mereka dapat merasakan situasi atau suasana seperti di lingkungan rumah.
  3. Saya lebih suka anak – anak bergaul di sekolah umum.

Karena sekarang mereka bisa diterima di sekolah umum. Nantinya mereka pun akan masuk kepada lingkungan umum. Kemampuan bersosialisasi itu harus dilatih sejak dini,” ujarnya saat ditemui di Jakarta. Ciri – ciri anak autis sudah dapat beradaptasi dan menerima orang lain adalah jika mereka sudah bisa memperhatikan kita.

Tips Mendidik Anak Autis untuk Temukan Kemampuan Terbaiknya Demam Tinggi Saat Hamil? Awas, Anak Berisiko Terlahir Autisme! Tips Melatih Anak yang Telat Bicara Moms, Yuk Ketahui Bagaimana Ciri Anak Mengalami Autisme Gejala Awal Autisme Dapat Dideteksi Sejak Usia 6 Bulan

(vem/asp/apl)

Jenis masalah motorik apa yang dimiliki anak dengan autisme?

7 Pertanyaan yang Sering Dilontarkan Soal Masalah Motorik pada Anak Autisme – Disabilitas Liputan6.com Miniatur kapal Titanic (Sumber: Boredpanda) Liputan6.com, Jakarta Ahli memperkirakan sekitar 87 persen anak memiliki semacam kesulitan motorik. Mulai dari gaya berjalan yang tidak biasa hingga masalah dengan tulisan tangan.

Masalah ini berbeda dari perilaku berulang yang dianggap sebagai ciri autisme. Namun, terlepas dari prevalensinya, masalah motorik tidak dianggap sebagai ciri utama autisme, karena masalah tersebut juga terjadi dengan kondisi lain, seperti down syndrome, cerebral palsy, dan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).

Berikut ini jawaban dari beberapa pertanyaan yang paling sering ditemukan oleh para ahli terkait masalah motorik pada orang yang memiliki autisme, dilansir dari Spectrum,1. Jenis masalah motorik apa yang dimiliki orang dengan autisme? Beberapa mungkin memiliki masalah motorik kasar, seperti gaya berjalan yang canggung dan tidak terkoordinasi dan beberapa kesulitan dengan kontrol motorik halus, seperti memanipulasi objek dan menulis.

  1. Atau beberapa kesulitan mengoordinasikan gerakan antara sisi kiri dan kanan tubuh sehingga sulit untuk melakukan tindakan seperti mengayunkan kaki mereka atau melompat.
  2. Ada juga yang memiliki tonus otot yang lemah dan memiliki masalah dalam menjaga postur atau keseimbangan mereka.
  3. Sedangkan yang lainnya tampak bermasalah dengan tindakan yang membutuhkan koordinasi tangan-mata, seperti menangkap bola atau meniru gerakan orang lain, dan dengan merencanakan serangkaian gerakan atau gerak tubuh, yang disebut dengan praxis.

Kesulitan yang mereka alami ini dapat berkisar dari ringan hingga berat dan dapat memengaruhi sistem motorik apa pun pada tubuh.2. Pada usia berapa masalah motorik dimulai? Mereka bisa muncul saat masih bayi. Misalnya, bayi usia 1 bulan yang kemudian didiagnosis autisme cenderung lebih jarang menggerakkan lengannya dibandingkan bayi biasa.

  1. Pada usia sekitar 4 bulan, seorang anak pada umumnya dapat menjaga kepalanya sejajar dengan bahunya ketika berganti ke posisi duduk, tetapi bayi dengan autisme sering kali kekurangan kekuatan sehingga kepalanya terkulai.
  2. Pada usia 14 bulan (usia kebanyakan anak bisa berjalan), bagi anak dengan autisme mungkin masih tidak bisa berdiri.

Masalah motorik lainnya dapat mencakup kesulitan untuk memegang benda atau duduk, dan tidak bertepuk tangan dan menunjuk.3. Bagaimana masalah motorik berkaitan dengan faktor genetik yang memengaruhi autisme? Menurut sebuah studi tahun 2017, setiap penundaan satu bulan untuk mulai berjalan meningkatkan kemungkinan seorang anak mengalami mutasi spontan pada gen autisme sebesar 17 persen.

Beberapa bentuk sindrom autisme yang disebabkan faktor genetik adalah masalah motorik tertentu. Misalnya orang dengan sindrom Phelan-McDermid sering memiliki tonus otot yang rendah, dan anak-anak dengan sindrom dup15q cenderung memiliki gaya berjalan yang khas. Berdasarkan sebuah penelitian tahun 2018, orang dengan autisme yang membawa mutasi spontan memiliki kemungkinan lebih besar mengalami masalah motorik, terlepas dari apakah mereka memiliki disabilitas intelektual.

Warganet dibuat terhibur dengan aksi Lee Min Ho menyanyikan lagu “Hati Yang Kau Sakiti” dengan segala adegan dramatisnya. Sampai-sampai sang pemilik lagu, Rossa bereaksi di instagramnya. Ilustrasi Pembelajaran Bersama Anak Autis Credit: pexels.com/pixabay Perbedaan konektivitas antar wilayah otak dapat membantu menjelaskan kesulitan motorik pada beberapa orang dengan autisme.

Misalnya orang dengan autisme mengalami penurunan sinkronisasi dalam aktivitas antara daerah visual dan motoriknya, semakin sedikit sinkronisasi di sana maka semakin parah defisit sosial mereka (berdasarkan skala standar). Masalah motorik mereka mungkin juga berasal dari konektivitas yang kurang antara lobus parietal inferior, suatu wilayah di otak yang mengkoordinasi tangan-mata dan otak kecil yang membantu memandu dan mengoreksi gerakan.

Orang dengan autisme juga tampaknya mengabaikan informasi visual dan lebih mengandalkan proprioception (perasaan internal tentang posisi tubuh mereka) daripada yang dilakukan orang pada umumnya saat belajar menggunakan alat baru. Artinya, semakin banyak orang dengan autisme mengandalkan proprioception, semakin parah defisit sosial mereka, meskipun para peneliti belum yakin mengapa hal ini terjadi.5.

  1. Bisakah masalah motorik menjadi ciri autisme? Mungkin.
  2. Masalah motorik pada masa bayi telah dikaitkan dengan keterlambatan dalam mengoceh, memberi isyarat dan memperoleh kosakata baru.
  3. Mereka mungkin juga memiliki ‘efek berjenjang’ lainnya pada perkembangan kognitif, sosial dan emosional.
  4. Itu karena kemampuan motorik, seperti duduk, meraih benda dan berjalan merupakan cara orang tua memberi pengalaman baru sekaligus mengajari anak banyak hal.

Selain itu, bayi yang tidak banyak bergerak atau tidak dapat menangkap objek cenderung tidak berinteraksi dengan pengasuhnya, sehingga membatasi kesempatan untuk belajar bahasa dan keterampilan lain dari orang dewasa. Keterampilan motorik yang buruk pada masa kanak-kanak dapat membuat anak dengan autisme enggan melakukan aktivitas fisik seperti olahraga, membatasi berinteraksi dengan anak lain dan berpotensi menghambat perkembangan sosial.

Atau bahasa halusnya, kesulitan mengoordinasikan gerakan kepala dapat mempersulit untuk mengikuti interaksi sosial dalam kelompok besar, dan masalah dengan tulisan tangan dapat memengaruhi kinerja akademis. Menurut peneliti, meskipun masalah motorik tidak diragukan lagi menghambat perkembangan sosial dan kognitif, kecil kemungkinannya menjadi penyebab satu-satunya anak dalam berinteraksi sosial.

Namun sebaliknya, perbedaan motorik dan sosial pada orang dengan autisme mungkin memiliki akar penyebab yang sama di otak, kata mereka.6. Bagaimana dokter dan peneliti mengukur keterampilan motorik? Beberapa tes standar dapat mengungkapkan apakah seorang anak dapat melakukan tugas motorik tertentu.

  1. Tapi ini tidak cukup tepat untuk mendiagnosis dan mengukur gangguan motorik anak dengan autisme.
  2. Beberapa peneliti telah menemukan cara baru untuk menyelidiki masalah motorik, menggunakan tulisan tangan, realitas virtual, penangkapan gerak dengan sensor dan kamera inframerah, akselerometer dan giroskop (untuk mengukur intensitas dan sudut gerakan anggota tubuh), tikar yang dilengkapi dengan sensor tekanan (untuk mendeteksi perbedaan dalam gaya berjalan), dan elektromiografi (teknik yang mengukur aktivitas listrik otot).
You might be interested:  Tuliskan Rancangan Sumpah Pemuda Yang Di Tulis Oleh Muhammad Yamin?

Tetapi para peneliti mengatakan mereka masih jauh dari standarisasi ukuran-ukuran ini. Namun yang penting adalah mendapatkan diagnosis sedini mungkin.7. Bagaimana cara mengatasi masalah motorik? Menurut peneliti, perawatan standar biasanya mencakup terapi fisik dan okupasi, tetapi ini mungkin tidak sepenuhnya memenuhi kebutuhan anak dengan autisme.

Terlebih lagi, hanya 32 persen anak autisme yang mendapatkan perawatan untuk masalah motoriknya. Beberapa ahli telah mulai mencoba pengobatan baru, seperti program olahraga yang disesuaikan, yoga, seni bela diri, dan terapi gerak yang melibatkan musik, meskipun hanya ada sedikit bukti apakah pendekatan ini efektif.

: 7 Pertanyaan yang Sering Dilontarkan Soal Masalah Motorik pada Anak Autisme – Disabilitas Liputan6.com

Bagaimana perkembangan motorik anak autisme?

Aktivitas motorik anak autis berbeda dengan anak normal lainnya perbedannya terletak pada perkembangan motoriknya yang lebih lambat dari anak normal. Pada anak autis usia 4-5 tahun anak akan lebih agresif, sering marah dan mengamuk, sering mengulang suatu gerakan-gerakan (Ambarwati, 2015).

Mengapa anak autis sulit berkomunikasi?

Mengapa Anak Autis Sulit Berkomunikasi – Parenting Fimela.com Salah satu tanda bahwa anak mengalami autisme adalah kemampuan berkomunikasi yang lemah. Penyebab kesulitan berkomunikasi pada anak autis baru-baru ini diungkapkan oleh sejumlah peneliti yang mempelajari hal tersebut.

  • Seperti yang dikutip dari webmd.com, anak-anak penderita autisme kurang menyukai suara manusia, karenanya mereka kurang suka berbicara dengan orang lain yang berakibat pada kesulitan berkomunikasi.
  • Seperti yang diungkapkan oleh Daniel Abrams, pemimpin penelitian yang dari Stanford University di Palo Alto, ketika manusia berbicara dengan orang lain, manusia tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi mereka juga menyampaikan emosi dan isyarat sosial.

Pada anak autis, mereka tidak bisa menangkap isyarat yang diberikan oleh orang lain yang sedang berbicara padanya tersebut. Bahkan, mereka cenderung mengabaikan suara manusia. Anak-anak penderita autisme tidak tuli, indera pendengaran mereka normal. Hanya saja terdapat masalah pada pemrosesan suara di otak mereka.

  1. Saat penelitian berlangsung, para peneliti mengamati aktivitas otak anak-anak autis dengan melihat perubahan aliran darah yang mengalir ke otak.
  2. Setelah dilakukan penelitian pada 20 anak autis berumur 10 tahun yang memiliki IQ normal, ditemukan bahwa pada otak anak-anak autis ini, area yang bertugas merespon suara manusia memiliki hubungan yang lemah dengan dua area otak lainnya yang memproduksi respon terhadap suara manusia tersebut.

Oleh: Pravianti Ayu Mirantiraras (vem/tyn) : Mengapa Anak Autis Sulit Berkomunikasi – Parenting Fimela.com

Kenapa anak autis sering mengamuk?

Saat Anak Autis Marah, Bisakah Picu Kekerasan? Foto: Ilustrasi/Thinkstock Jakarta – Anak autis seringkali mengalami masalah dalam komunikasi sehingga membuatnya lebih agresif dibanding anak-anak lainnya. Namun dengan seringnya si anak marah, apakah juga bisa memicu tindakan kekerasan?”Anak autis itu memiliki masalah sensorik.

Jadi dia mengolah informasi yang berbeda dengan kita. Hipersensitif terhadap suara, sinar, kerumunan, yang buat dunia mereka menjadi tidak nyaman,” jelas Dr Adriana Ginanja, MS, psikolog sekaligus pendiri sekolah khusus anak autis ‘Mandiga’, saat dihubungi detikHealth, Rabu (19/12/2012).Ketika tubuhnya menjadi overwarm (lebih panas), anak akan menjadi agresif dan mudah marah.

Namun Adriana menegaskan, kebanyakan anak autis tidak bermaksud untuk melukai orang lain. Ia hanya merasa tidak nyaman dengan kondisinya sendiri tapi tidak bisa mengkomunikasikannya. Menurut wanita yang juga berprofesi sebagai pengajar di Universitas Indonesia ini, anak autis tidak seperti anak nakal lainnya yang memang suka memukul temannya sendiri.Anak autis cenderung lebih mudah mengamuk karena tidak bisa menyampaikan apa yang dirasakan oleh tubuhnya.

  • Namun, lanjut Adriana, tekanan dari lingkungan sekitar yang terus terjadi, misal menjadi bahan ledekan (bully) dari teman-teman sekolah, bisa saja meningkatkan agresivitas anak autis.”Pernah ada anak yang cerita ke saya, dia sering diledekin di sekolah.
  • Pertama-tama dia tahan, tapi diledekin lagi, tahan lagi.

Tapi suatu saat teman-temannya cuma tertawa saja, dia sudah ngamuk. Jadi sebenarnya itu sudah akumulasi dari sebelum-sebelumnya,” jelas Adriana.Adriana menjelaskan, agresivitas pada pengidap autis biasanya lebih banyak terjadi pada masa anak-anak. Namun dengan bertambahnya usia, akan terjadi pematangan pada psikologisnya, sehingga agresivitas pun berkurang.Agar tak sering mengamuk atau marah-marah, Adriana menuturkan sebaiknya orang tua dan teman-teman di sekitar anak autis harus menghindari hal-hal yang dapat memicu agresivitas anak.”Ada nggak yang bisa dihindari, misal dia tidak suka tempat ramai atau janji yang tidak ditepati,” saran Adriana.

Apa saja yang termasuk dalam strategi dan metode pembelajaran?

You are here: Home / Artikel / KONSEP DASAR PENDEKATAN, STRATEGI, METODE, TEKNIK, TAKTIK, DAN MODEL PEMBELAJARAN KONSEP DASAR PENDEKATAN, STRATEGI, METODE, TEKNIK, TAKTIK, DAN MODEL PEMBELAJARAN OLEH: WIJAYANTI SD NEGERI PLAOSAN UPT DIKBUDPORA KECAMATAN BRUNO KABUPATEN PURWOREJO 2015 DAFTAR ISI PENDAHULUAN PEMBAHASAN

KONSEP DASAR PENDEKATAN

Pengertian Pendekatan Pembelajaran Jenis Pendekatan Pembelajaran dilihat dari Pendekatannya

Pendekatan Ekspository Pendekatan Inquiry

Macam-macam Pendekatan Pembelajaran

Pendekatan Kontekstual Pendekatan Konstruktivisme Pendekatan Deduktif Pendekatan Induktif Pendekatan Konsep Pendekatan Proses Pendekatan STM

KONSEP DASAR STRATEGI

Pengertian Strategi Pembelajaran Macam-macam Strategi Pembelajaran

KONSEP DASAR METODE

Pengertian Metode Pembelajaran Macam-macam Metode Pembelajaran

TEKNIK PEMBELAJARAN

Pengertian Teknik Teknik Pembelajaran

TAKTIK PEMBELAJARAN

Pengertian Taktik Taktik Pembelajaran

MODEL PEMBELAJARAN

Pengertian Model Pembelajaran Model Pembelajaran menurut Bruce Joyce dan Marsha Weil Model Pembelajaran menurut Karli dan Yuliariatiningsih

PENUTUP

SIMPULAN SARAN

REFERENSI PENDAHULUAN Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran, (2) strategi pembelajaran, (3) metode pembelajaran; (4) teknik pembelajaran; (5) taktik pembelajaran; dan (6) model pembelajaran.

KONSEP DASAR PENDEKATAN

Pengertian Pendekatan Pembelajaran

Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.

Jenis Pendekatan Pembelajaran dilihat dari Pendekatannya

Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu:

pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach) dan pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach).

1. Pendekatan Expository Pendekatan Expository menekankan pada penyampaian informasi yang disampaikan sumber belajar kepada warga belajar. Melalui pendekatan ini sumber belajar dapat menyampaikan materi sampai tuntas. Pendekatan Expository lebih tepat digunakan apabila jenis bahan belajar yang bersifat informatif yaitu berupa konsep-konsep dan prinsip dasar yang perlu difahami warga belajar secara pasti.

  • Pendekatan ini juga tepat digunakan apabila jumlah warga belajar dalam kegiatan belajar itu relatif banyak.
  • Pendekatan expository dalam pembelajaran cenderung berpusat pada sumber belajar, dengan memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) adanya dominasi sumber belajar dalam pembelajaran, 2) bahan belajar terdiri dari konsep-konsep dasar atau materi yang baru bagi warga belajar, 3) materi lebih cenderung bersifat informasi, 4) terbatasnya sarana pembelajaran.

Langkah-langkah penggunaan pendekatan Expository: a. Sumber belajar menyampaikan informasi mengenai konsep, prinsip-prinsip dasar serta contoh-contoh kongkritnya. Pada langkah ini sumber belajar dapat menggunakan berbagai metode yang dianggap tepat untuk menyampaikan informasi b.

  • Pengambilan kesimpulan dari keseluruhan pembahasan baik dilakukan oleh sumber belajar atau warga belajar atau bersama antara sumber belajar dengan warga belajar.
  • Euntungan dari penggunaan pendekatan Expository adalah sumber belajar dapat menyampaikan bahan belajar sampai tuntas sesuai dengan rencana yang sudah ditentukan, bahan belajar yang diperoleh warga belajarnya sifatnya seragam yaitu diperoleh dari satu sumber, melatih warga belajar untuk menangkap, manafsirkan materi yang disampaikan oleh sumber belajar, target materi pembelajaran yang perlu disampaikan mudah tercapai, dapat diikuti oleh warga belajar dalam jumlah relatif banyak.

Disamping kebaikan ada juga kelemahannya yaitu pembelajaran terlalu berpusat kepada sumber belajar sehingga terjadi pendominasian kegiatan oleh sumber belajar yang mengakibatkan kreatifitas warga belajar terhambat. Kelemahan lain yaitu sulit mengetahui taraf pemahaman warga belajar tentang materi yang sudah diberikan, karena dalam hal ini tidak ada kegiatan umpan balik.

Untuk mengatasi kelemahan pendekatan ini harus ada usaha dari sumber belajar tentang jenis metode yang digunakan yaitu setelah penyampaian informasi selesai harus ada tindak lanjutnya yaitu dengan menggunakan metode bervariasi yang sekiranya memberikan kesempatan kepada warga belajar untuk mengemukakan permasalahan atau gagasannya yang ada kaitannya dengan materi yang sudah diberikan.2.

Pendekatan Inquiry Istilah Inquiry mempunyai kesamaan konsep dengan istilah lain seperti Discovery, Problem solving dan Reflektif Thinking. Semua istilah ini sama dalam penerapannya yaitu berusaha untuk memberikan kesempatan kepada warga belajar untuk dapat belajar melalui kegiatan pengajuan berbagai permasalahan secara sistimatis, sehingga dalam pembelajaran lebih berpusat pada keaktifan warga belajar.

Dalam kegiatan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Inquiry, sumber belajar menyajikan bahan tidak sampai tuntas, tetapi memberi peluang kepada warga belajar untuk mencari dan menemukannya sendiri dengan menggunakan berbagai cara pendekatan masalah. Sebagaimana dikemukakan oleh Bruner bahwa landasan yang mendasari pendekatan inquiry ini adalah hasil belajar dengan cara ini lebih mudahdiingat, mudah ditransfer oleh warga belajar.

Pengetahuan dan kecakapan warga belajar yang bersangkutan dapat menumbuhkan motif intrinsik karena warga belajar merasa puas atas penemuannya sendiri. Pendekatan Inquiry ditujukan kepada cara belajar yang menggunakan cara penelaahan atau pencarian terhadap sesuatu objek secara kritis dan analitis, sehingga dapat membentuk pengalaman belajar yang bermakna.

Warga belajar dituntut untuk dapat mengungkapkan sejumlah pertanyaan secara sistimatis terhadap objek yang dipelajarinya sehingga ia dapat mengambil kesimpulan dari hasil informasi yang diperolehnya. Peran sumber belajar dalam penggunaan pendekatan Inquiry ini adalah sebagai pembimbing/fasilitator yang dapat mengarahkan warga belajar dalam kegiatan pembelajarannya secara efektif dan efisien.

Langkah-langkah yang dapat ditempuh dengan menggunakan pendekatan Inquiry yaitu sebagaimana dikemukan oleh A.Trabani :

Stimulation : Sumber belajar mulai dengan bertanya mengajukan persoalan atau memberi kesempatan kepada warga belajar untuk membaca atau mendengarkan uraian yang memuat permasalahan Problem Statement : Warga belajar diberi kesempatan mengidentifikasi berbagai permasalahan. Permasalahan yang dipilih selanjutnya harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan atau hipotesis Data Collection : Untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis itu, warga belajar diberi kesempatan untuk mengumpulkan berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objeknya, mewawancarai nara sumber, uji coba sendiri dan sebagainya. Data Processing : Semua informasi itu diolah, dilacak, diklasifikasikan, ditabulasikan kalau mungkin dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu. Verification : Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran atau informasi yang ada tersebut, pertanyaan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek terbukti atau tidak. Generalization : Berdasarkan hasil verifikasi maka warga belajar menarik generalisasi atau kesimpulan tertentu.

Adapun langkah secara keseluruhan mulai dari perencanaan sampai evaluasi tentang penggunaan pendekatan Inquiry adalah sebagai berikut :

Kegiatan pemberian dorongan : Kegiatan ini ditujukan untuk menarik perhatian warga belajar dan mengungkapkan hubungan bahan belajar yang akan dipelajari dengan bahan belajar yang sudah dikuasai atau dalam keseluruhan bahan belajar secara utuh Kegiatan penyampaian rencana program pembelajaran. Kegiatan ini ditujukan untuk mengungkapkan rencana program pembelajaran, termasuk prosedur pembelajaran yang harus diikuti oleh warga belajar Proses inquiry.Pelaksanaan pembelajaran dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :

Pengajuan permasalahan Pengajuan pertanyaan penelitian atau hipotesis Pengumpulan data Penarikan kesimpulan Penarikan generalisasi

Umpan balik. Kegiatan ini ditujukan untuk melihat respon warga belajar terhadap keseluruhan bahan belajar yang telah dipelajari Penilaian. Kegiatan penilaian dilakukan oleh sumber belajar baik secara lisan maupun tertulis dan atau penampilan.

Dalam penggunaan pendekatan Inquiry, Sumber belajar perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

Warga belajar sudah memiliki pengetahuan konsep dasar yang berhubungan dengan bahan belajar yang dipelajari Warga belajar memiliki sikap dan nilai tentang keraguan terhadap informasi yang diterima, keingintahuan, respek terhadap penggunaan fikiran, respek terhadap data, objektif, keingintahuan dalam pengambilan keputusan, dan toleran dalam ketidaksamaan Memahami prosedur pelaksanaan penggunaan strategi pembelajaran Inquiry

Apabila pendekatan Inquiry digunakan dalam kegiatan pembelajaran maka banyak kelebihan yang diperoleh, diantaranya yaitu :

Menumbuhkan situasi keakraban diantara warga belajar, karena diberi kesempatan untuk saling berkomunikasi dalam memecahkan suatu permasalahan Membiasakan berfikir sistimatis dan analitis dalam mengajukan hipotesis dan pemecahan masalah Membiasakan berfikir objektif dan empirik yang didasarkan atas pengalaman atau data yang diperoleh Tumbuhnya suasana demokratis dalam pembelajaran Dapat menambah wawasan bagi warga belajar dan sumber belajar karena terjadi saling tukar pengalaman

Disamping kelebihan dari pendekatan ini juga tidak lepas dari kelemahan yang mungkin timbul dalam proses pembelajaran yaitu apabila tidak ada kesiapan dan kemampuan dari warga belajar untuk memecahkan permasalahan maka tujuan pembelajaran tidak akan tercapai, juga kemungkinan akan terjadi pendominasian oleh beberapa orang warga belajar yang sudah biasa dalam hal mengemukakan pendapat.

Macam-Macam Pendekatan Pembelajaran

Macam -macam pendekatan pembelajaran yaitu sebagai berikut :

Pendekatan Konstektual

Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (US Departement of Education, 2001).

Dalam konteks ini siswa perlu mengerti apa makna belajar, manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya. Dengan ini siswa akan menyadari bahwa apa yang mereka pelajari berguna sebagai hidupnya nanti. Sehingga, akan membuat mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal yang bermanfaat untuk hidupnya nanti dan siswa akan berusaha untukmenggapainya.

Dalam pengajaran kontekstual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang penting,yaitu: a. Mengaitkan Mengaitkan adalah strategi yang paling hebat dan merupakan inti konstruktivisme. Guru menggunakan strategi ini ketia ia mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa.

Jadi dengan demikian,mengaitkan apa yang sudah diketahui siswa dengan informasi baru.b. Mengalami Mengalami merupakan inti belajar kontekstual dimana mengaitkan berarti menghubungkan informasi baru dengan pengelaman maupun pengetahui sebelumnya. Belajar dapat terjadi lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif.c.

Menerapkan Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia malakukan kegiatan pemecahan masalah. Guru dapet memotivasi siswa dengan memberikam latihan yang realistic dan relevan.d. Kerjasama Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu kemajuan yang signifikan.

  1. Sebaliknya,siswa yang bekerja secara kelompok sering dapat mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan.
  2. Pengalaman kerjasama tidak hanya membanti siswa mempelajari bahan ajar,tetapi konsisten dengan dunia nyata.e.
  3. Mentransfer Peran guru membuat bermacam-macam pengalaman belajar dengan focus pada pemahaman bukan hapalan.2.

Pendekatan Konstrutivisme Pendekatan konstruktivisme merupakan pendekatan dalam pembelajaran yang lebih menekankan pada tingkat kreatifitas siswa dalam menyalurkan ide-ide baru yang dapat diperlukan bagi pengembangan diri siswa yang didasarkan pada pengetahuan.

Pada dasarnya pendekatan konstruktivisme sangat penting dalam peningkatan dan pengembangan pengetahuan yang dimiliki oleh siswa berupa keterampilan dasar yang dapat diperlukan dalam pengembangan diri siswa baik dalam lingkungan sekolah maupun dalam lingkungan masyarakat. Dalam pendekatan konstruktivisme ini peran guru hanya sebagai pembimbing dan pengajar dalam kegiatan pembelajaran.

Oleh karena itu, guru lebih mengutamakan keaktifan siswa dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyalurkan ide-ide baru yang sesuai dengan materi yang disajikan untuk meningkatkan kemampuan siswa secara pribadi. Secara umum yang disebut konstruktivisme menekankan kontribusi seseorang pembelajar dalam memberikan arti,serta belajar sesuatu melalui aktivitas individu dan sosial.

Konstrukstivisme Individu

You might be interested:  Bagaimana Cara Melakukan Gerak Tari Meniru Hewan Katak?

Para psikolog konstruktivis yang tertarik dengan pengetahuan individu, kepercayaan, konsep diri atau identitas adalah mereka yang biasa disebut konstruktivis individual. Riset mereka berusaha mengungkap sisi dalam psikologi manusia dan bagaimana seseorang membentuk struktur emosional atau kognitif dan strateginya

Konstruktivisme sosial

Berbeda dengan Piaget, Vygotsky percaya bahwa pengetahuan dibentuk secara sosial,yaitu terhadap apa yang masing-masing partisipan kontribusikan dan buat secara bersama-sama. Sehingga perkembangan pengetahuan yang dihasilkan akan berbeda-beda dalam konteks budaya yang berbeda.

Dengan adanya pendekatan konstruktivisme,pengembangan pengetahuan bagi peserta didik dapat dilakukan oleh siswa itu sendiri melalui kegiatan penelitian atau pengamatan langsung sehingga siswa dapat menyalurkan ide-ide baru sesuai dengan pengalaman dengan menemukan fakta yang sesuai dengan kajian teori. Antara pengetahuan-pengetahuan yang ada harus ada keterkaitan dengan pengalaman yang ada dalam diri siswa. Setiap siswa mempunyai peranan penting dalam menentukan apa yang mereka pelajari Peran guru hanya sebagai pembimbing dengan menyediakan materi atau konsep apa yang akan dipelajari serta memberikan peluang kepada siswa untuk menganalisis sesuai dengan materi yang dipelajari

3. Pendekatan Deduktif Pendekatan deduktif (deductive approach) adalah pendekatan yang menggunakan logika untuk menarik satu atau lebih kesimpulan (conclusion) berdasarkan seperangkat premis yang diberikan. Dalam sistem deduktif yang kompleks,peneliti dapat menarik lebih dari satu kesimpulan.

  • Metode deduktif sering digambarkan sebagai pengambilan kesimpulan dari sesuatu yang umum kesesuatuyangkhusus.
  • Pendekatan deduktif merupakan proses penalaran yang bermula dari keadaan umum ke keadaan khusus sebagai pendekatan pengajaran yang bermula dengan menyajikan aturan,prinsip umum dan diikuti dengan contoh contoh khusus atau penerapan aturan,prinsip umum ke dalam keadaan khusus.4.

Pendekatan Induktif Pendekatan induktif menekanan pada pengamatan dahulu, lalu menarik kesimpulan berdasarkan pengamatan tersebut. Metode ini sering disebut sebagai sebuah pendekatan pengambilan kesimpulan dari khusus menjadi umum. Pendekatan induktif merupakan proses penalaran yang bermula dari keadaan khusus menuju keadaan umum.5.

Pendekatan Konsep Pendekatan konsep adalah pendekatan yang mengarahkan peserta didik meguasai konsep secara benar dengan tujuan agar tidak terjadi kesalahan konsep (miskonsepsi). Konsep adalah klasifikasi perangsang yang memiliki ciri-ciri tertentu yang sama. Konsep merupakan struktur mental yang diperoleh dari pengamatan dan pengalaman.

Pendekatan Konsep merupakan suatu pendekatan pengajaran yang secara langsung menyajikan konsep tanpa memberi kesempatan kepada siswa untuk menghayati bagaimana konsep itu diperoleh. Ciri-ciri suatu konsep adalah:

Konsep memiliki gejala-gejala tertentu Konsep diperoleh melalui pengamatan dan pengalaman langsung Konsep berbeda dalam isi dan luasnya Konsep yang diperoleh berguna untuk menafsirkan pengalaman-pengalarnan Konsep yang benar membentuk pengertian

Setiap konsep berbeda dengan melihat ciri-ciri tertentu. Kondisi-kondisi yang dipertimbangkan dalam kegiatan belajar mengajar dengan pendekatan konsep adalah: a. Menanti kesiapan belajar, kematangan berpikir sesuai denaan unsur lingkungan.b. Mengetengahkan konsep dasar dengan persepsi yang benar yang mudah dimengerti.c.

  1. Memperkenalkan konsep yang spesifik dari pengalaman yang spesifik pula sampai konsep yang komplek.d.
  2. Penjelasan perlahan-lahan dari yang konkret sampai ke yang abstrak.
  3. Langkah-langkah mengajar dengan pendekatan konsep melalui 3 tahap yaitu: 1.
  4. Tahap enaktik Tahap enaktik dimulai dari: a.
  5. Pengenalan benda konkret.b.

Menghubungkan dengan pengalaman lama atau berupa pengalaman baru.c. Pengamatan,penafsiran tentang benda baru 2. Tahap simbolik Tahap simbolik siperkenalkan dengan: a. Simbol,lambang,kode,seperti angka,huruf. kode,seperti (?=,/) dll.b. Membandingkan antara contoh dan non-contoh untuk menangkap apakah siswa cukup mengerti akan ciri-cirinya.c.

  • Memberi nama,dan istilah serta defenisi.3.
  • Tahap ikonik Tahap ini adalah tahap penguasaan konsep secara abstrak,seperti Menyebut nama,istilah,defmisi,apakah siswa sudah mampu mengatakannya 6.
  • Pendekatan Proses Pendekatan proses merupakan pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghayati proses penemuan atau penyusunan suatu konsep sebagai suatu keterampilan proses.

Pendekatan proses adalah pendekatan yang berorientasi pada proses bukan hasil. Pada pendekatan ini peserta didik diharapkan benar-benar menguasai proses. Pendekatan ini penting untuk melatih daya pikir atau mengembangkan kemampuan berpikir dan melatih psikomotor peserta didik.

  • Dalam pendekatan proses peserta didik juga harus dapat mengilustrasikan atau memodelkan dan bahkan melakukan percobaan.
  • Evaluasi pembelajaran yang dinilai adalah proses yang mencakup kebenaran cara kerja, ketelitian, keakuratan, keuletan dalam bekerja dan sebagainya.7.
  • Pendekatan Sains, Teknologi, dan Masyarakat Pendekatan Science,Technology and Society (STS) atau pendekatan Sains,Teknologi dan Masyarakat (STM) merupakan gabungan antara pendekatan konsep, keterampilan proses, CBSA, Inkuiri dan diskoveri serta pendekatan lingkungan.

(Susilo,1999). Istilah Sains Teknologi Masyarakat (STM) dalam bahasa Inggris disebut Sains Technology Society (STS), Science Technology Society and Environtment (STSE) atau Sains Teknologi Lingkungan dan Masyarakat. Meskipun istilahnya banyak namun sebenarnya intinya sama yaitu Environtment,yang dalam berbagai kegiatan perlu ditonjolkan.

  1. Sains Teknologi Masyarakat (STM) merupakan pendekatan terpadu antara sains,teknologi,dan isu yang ada di masyarakat.
  2. Adapun tujuan dari pendekatan STM ini adalah menghasilkan peserta didik yang cukup memiliki bekal pengetahuan,sehingga mampu mengambil keputusan penting tentang masalah-masalah dalam masyarakat serta mengambil tindakan sehubungan dengan keputusan yang telah diambilnya.

Filosofi yang mendasari pendekatan STM adalah pendekatan konstruktivisme,yaitu peserta didik menyusun sendiri konsep-konsep di dalam struktur kognitifnya berdasarkan apa yang telah mereka ketahui.

KONSEP DASAR STRATEGI

Pengertian Strategi Pembelajaran

Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan.

  • Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran.
  • Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008).

Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu :

Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.

Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:

Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.

B. Macam-Macam Strategi Pembelajaran Macam-macam strategi pembelajaran meliputi: Strategi Pembelajaran Ekspositori (SPE), Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI), Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (SPBM), Strategi Pembelajaran Kooperatif (SPK), Stategi Pembelajaran Kontekstual (CTL), Srategi Pembelajaran Afektif, Strategi Pembelajaran Kreatif Produk, Strategi Pembelajaran Inkuiri ktif, Strategi Pembelajaran Berbasis Proyek, Strategi Pembelajaran Kuantum, Strategi Pembelajaran Siklus, Srategi Pembelajaran Berbasis Komputer dan Berbasis Elektronik (E-Learning), Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir (SPPKB).

KONSEP DASAR METODE PEMBELAJARAN

Pengertian Metode Pembelajaran

Metode merupakan langkah operasional dari strategi pembelajaran yang dipilih dalam mencapai tujuan belajar, sehingga bagi sumber belajar dalam menggunakan suatu metode pembelajaran harus disesuaikan dengan jenis strategi yang digunakan. Ketepatan penggunaan suatu metode akan menunjukkan fungsionalnya strategi dalam kegiatan pembelajaran.

  1. Istilah metode dapat digunakan dalam berbagai bidang kehidupan, sebab secara umum menurut kamus Purwadarminta (1976), metode adalah cara yang telah teratur dan terfikir baik-baik untuk mencapai sesuatu maksud.
  2. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.

Metode berasal dari kata method (Inggris), artinya melalui, melewati, jalan atau cara untuk memeroleh sesuatu. Berdasarkan pengertian tersebut di atas jelas bahwa pengertian Metode pada prinsipnya sama yaitu merupakan suatu cara dalam rangka pencapaian tujuan, dalam hal ini dapat menyangkut dalam kehidupan ekonomi, sosial, politik, maupun keagamaan.

  1. Unsur–unsur metode dapat mencakup prosedur, sistimatik, logis, terencana dan aktivitas untuk mencapai tujuan.
  2. Adapun metode dalam pembahasan ini yaitu metode yang digunakan dalam proses pembelajaran.
  3. Pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap upaya yang sistimatik dan disengaja untuk menciptakan kondisi-kondisi agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan efisien.

Dalam kegiatan pembelajaran tersebut tidak dapat lepas dari interaksi antara sumber belajar dengan warga belajar, sehingga untuk melaksanakan interaksi tersebut diperlukan berbagai cara dalam pelaksanaannya. Interaksi dalam pembelajaran tersebut dapat diciptakan interaksi satu arah, dua arah atau banyak arah.

Untuk masing-masing jenis interaksi tersebut maka jelas diperlukan berbagai metode yang tepat sehingga tujuan akhir dari pembelajaran tersebut dapat tercapai. Metode dalam pembelajaran tidak hanya berfungsi sebagai cara untuk menyampaikan materi saja, sebab sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran mempunyai tugas cakupan yang luas yaitu disamping sebagai penyampai informasi juga mempunyai tugas untuk mengelola kegiatan pembelajaran sehingga warga belajar dapat belajar untuk mencapai tujuan belajar secara tepat.

Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Berdasarkan hal tersebut maka kedudukan metode dalam pembelajaran mempunyai ruang lingkup sebagai cara dalam: 1.

Pemberian dorongan, yaitu cara yang digunakan sumber belajar dalam rangka memberikan dorongan kepada warga belajar untuk terus mau belajar 2. Pengungkap tumbuhnya minat belajar, yaitu cara dalam menumbuhkan rangsangan untuk tumbuhnya minat belajar warga belajar yang didasarkan pada kebutuhannya 3. Penyampaian bahan belajar, yaitu cara yang digunakan sumber belajar dalam menyampaikan bahan dalam kegiatan pembelajaran 4.

Pencipta iklim belajar yang kondusif, yaitu cara untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi warga abelajar untuk belajar 5. Tenaga untuk melahirkan kreativitas, yaitu cara untuk menumbuhkan kreativitas warga belajar sesuai dengan potensi yang dimilikinya 6.

  • Pendorong untuk penilaian diri dalam proses dan hasil belajar, yaitu cara untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran 7.
  • Pendorong dalam melengkapi kelemahan hasil belajar, cara untuk untuk mencari pemecahan masalah yang dihadapi dalam kegiatan pembelajaran Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu.

Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something ” sedangkan metode adalah ” a way in achieving something ” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Macam-Macam Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran di sini dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: 1.

Metode Ceramah Metode pembelajaran ceramah adalah penerangan secara lisan atas bahan pembelajaran kepada sekelompok pendengar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam jumlah yang relatif besar. Seperti ditunjukkan oleh Mc Leish (1976), melalui ceramah, dapat dicapai beberapa tujuan. Dengan metode ceramah, guru dapat mendorong timbulnya inspirasi bagi pendengarnya.

Gage dan Berliner (1981:457), menyatakan metode ceramah cocok untuk digunakan dalam pembelajaran dengan ciri-ciri tertentu. Ceramah cocok untuk penyampaian bahan belajar yang berupa informasi dan jika bahan belajar tersebut sukar didapatkan.2. Metode Diskusi Metode pembelajaran diskusi adalah proses pelibatan dua orang peserta atau lebih untuk berinteraksi saling bertukar pendapat, dan atau saling mempertahankan pendapat dalam pemecahan masalah sehingga didapatkan kesepakatan diantara mereka.

  • Pembelajaran yang menggunakan metode diskusi merupakan pembelajaran yang bersifat interaktif (Gagne & Briggs.1979: 251).
  • Menurut Mc.
  • Eachie-Kulik dari hasil penelitiannya, dibanding metode ceramah, metode diskusi dapat meningkatkan anak dalam pemahaman konsep dan keterampilan memecahkan masalah.
  • Tetapi dalam transformasi pengetahuan, penggunaan metode diskusi hasilnya lambat dibanding penggunaan ceramah.

Sehingga metode ceramah lebih efektif untuk meningkatkan kuantitas pengetahuan anak dari pada metode diskusi.3. Metode Demonstrasi Metode pembelajaran demontrasi merupakan metode pembelajaran yang sangat efektif untuk menolong siswa mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti: Bagaimana cara mengaturnya? Bagaimana proses bekerjanya? Bagaimana proses mengerjakannya.

  • Demonstrasi sebagai metode pembelajaran adalah bilamana seorang guru atau seorang demonstrator (orang luar yang sengaja diminta) atau seorang siswa memperlihatkan kepada seluruh kelas sesuatau proses.
  • Misalnya bekerjanya suatu alat pencuci otomatis, cara membuat kue, dan sebagainya.
  • Elebihan Metode Demonstrasi : a.

Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan.b. Proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari.c. Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri siswa. Kelemahan metode Demonstrasi : a. Siswa kadang kala sukar melihat dengan jelas benda yang diperagakan.b.

Tidak semua benda dapat didemonstrasikan.c. Sukar dimengerti jika didemonstrasikan oleh pengajar yang kurang menguasai apa yang didemonstrasikan.4. Metode Ceramah Plus Metode Pembelajaran Ceramah Plus adalah metode pengajaran yang menggunakan lebih dari satu metode, yakni metode ceramah yang dikombinasikan dengan metode lainnya.

Ada tiga macam metode ceramah plus, diantaranya yaitu: a. Metode ceramah plus tanya jawab dan tugas b. Metode ceramah plus diskusi dan tugas c. Metode ceramah plus demonstrasi dan latihan (CPDL) 5. Metode Resitasi Metode Pembelajaran Resitasi adalah suatu metode pengajaran dengan mengharuskan siswa membuat resume dengan kalimat sendiri.

Kelebihan Metode Resitasi adalah : a. Pengetahuan yang diperoleh peserta didik dari hasil belajar sendiri akan dapat diingat lebih lama.b. Peserta didik memiliki peluang untuk meningkatkan keberanian, inisiatif, bertanggung jawab dan mandiri. Kelemahan Metode Resitasi adalah : a. Kadang kala peserta didik melakukan penipuan yakni peserta didik hanya meniru hasil pekerjaan orang lain tanpa mau bersusah payah mengerjakan sendiri.b.

Kadang kala tugas dikerjakan oleh orang lain tanpa pengawasanc. Sukar memberikan tugas yang memenuhi perbedaan individual.6. Metode Eksperimental Metode pembelajaran eksperimental adalah suatu cara pengelolaan pembelajaran di mana siswa melakukan aktivitas percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri suatu yang dipelajarinya.

Dalam metode ini siswa diberi kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri dengan mengikuti suatu proses, mengamati suatu obyek, menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri tentang obyek yang dipelajarinya.7. Metode Study Tour (Karya wisata) Metode study tour Study tour (karya wisata) adalah metode mengajar dengan mengajak peserta didik mengunjungi suatu objek guna memperluas pengetahuan dan selanjutnya peserta didik membuat laporan dan mendiskusikan serta membukukan hasil kunjungan tersebut dengan didampingi oleh pendidik.8.

Metode Latihan Keterampilan Metode latihan keterampilan (drill method) adalah suatu metode mengajar dengan memberikan pelatihan keterampilan secara berulang kepada peserta didik, dan mengajaknya langsung ketempat latihan keterampilan untuk melihat proses tujuan, fungsi, kegunaan dan manfaat sesuatu (misal: membuat tas dari mute).

  • Metode latihan keterampilan ini bertujuan membentuk kebiasaan atau pola yang otomatis pada peserta didik.9.
  • Metode Pengajaran Beregu Metode pembelajaran beregu adalah suatu metode mengajar dimana pendidiknya lebih dari satu orang yang masing-masing mempunyai tugas.
  • Biasanya salah seorang pendidik ditunjuk sebagai kordinator.

Cara pengujiannya, setiap pendidik membuat soal, kemudian digabung. Jika ujian lisan maka setiapsiswa yang diuji harus langsung berhadapan dengan team pendidik tersebut.10. Peer Theaching Method Metode Peer Theaching sama juga dengan mengajar sesama teman, yaitu suatu metode mengajar yang dibantu oleh temannya sendiri.11.

Metode Pemecahan Masalah (problem solving method) Metode problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya sekadar metode mengajar, tetapi juga merupakan suatu metode berpikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya yang dimulaidengan mencari data sampai pada menarik kesimpulan.

You might be interested:  Jelaskan Bagaimana Cara Melakukan Teknik Posisi Badan Renang Gaya Bebas?

Metode problem solving merupakan metode yang merangsang berfikir dan menggunakan wawasan tanpa melihat kualitas pendapat yang disampaikan oleh siswa. Seorang guru harus pandai-pandai merangsang siswanya untuk mencoba mengeluarkan pendapatnya.12. Project Method Project Method adalah metode perancangan adalah suatu metode mengajar dengan meminta peserta didik merancang suatu proyek yang akan diteliti sebagai obyek kajian.13.

TEKNIK PEMBELAJARAN

Pengertian Teknik

Teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode.

Teknik Pembelajaran

Teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas.

TAKTIK PEMBELAJARAN

Pengertian Taktik

Taktik adalah gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik

Taktik Pembelajaran,

Taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya.

  1. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu.
  2. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan.

Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat)

MODEL PEMBELAJARAN

Pengertian Model Pembelajaran

Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru.

Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku.

Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran. Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut: Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu.

Macam- Macam Model Pembelajaran

Macam Model Pembelajaran Menurut Karli dan Yuliariatiningsih (2002) adalah: (a) model pembelajaran kontekstual (CTL), (b) model pembelajaran berdasarkan masalah, (c) model pembelajaran konstruktivisme, (d) model dengan pendekatan lingkungan, (e) model pengajaran langsung, (f) model pembelajarn terpadu, dan (g) model pembelajaran interaktif.

Fungsi model pembelajaran adalah sebagai pedoman perancangan dan pelaksanaan pembelajaran. Karena itu, pemilihan model sangat dipengaruhi oleh sifat dari materi yang akan dibelajarkan, tujuan (kompetensi) yang akan dicapai dalam pembelajaran tersebut, serta tingkat kemampuan peserta didik. Di bawah ini akan diuraikan secara singkat dari masing-masing model pembelajaran : 1.

Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning) Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning) atau biasa disingkat CTL merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan nyata, sehingga peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari.

  • Dalam pembelajaran kontekstual, tugas guru adalah memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik, dengan menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai.
  • Guru bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran yang berupa hapalan, tetapi mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik belajar.

Dengan mengutip pemikiran Zahorik, E. Mulyasa (2003) mengemukakan lima elemen yang harus diperhatikan dalam pembelajaran kontekstual, yaitu : Pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh peserta didik. Pembelajaran dimulai dari keseluruhan (global) menuju bagian-bagiannya secara khusus (dari umum ke khusus).

Pembelajaran harus ditekankan pada pemahaman, dengan cara: (a) menyusun konsep sementara; (b) melakukan sharing untuk memperoleh masukan dan tanggapan dari orang lain; dan (c) merevisi dan mengembangkan konsep.2. Bermain Peran (Role Playing) Bermain peran merupakan salah satu model pembelajaran yang diarahkan pada upaya pemecahan masalah-masalah yang berkaitan dengan hubungan antarmanusia (interpersonal relationship), terutama yang menyangkut kehidupan peserta didik.

Pengalaman belajar yang diperoleh dari metode ini meliputi, kemampuan kerjasama, komunikatif, dan menginterprestasikan suatu kejadian. Melalui bermain peran, peserta didik mencoba mengeksplorasi hubungan-hubungan antarmanusia dengan cara memperagakan dan mendiskusikannya, sehingga secara bersama-sama para peserta didik dapat mengeksplorasi parasaan-perasaan, sikap-sikap, nilai-nilai, dan berbagai strategi pemecahan masalah.

Dengan mengutip dari Shaftel dan Shaftel, E. Mulyasa (2003) mengemukakan tahapan pembelajaran bermain peran meliputi : (1) menghangatkan suasana dan memotivasi peserta didik; (2) memilih peran; (3) menyusun tahap-tahap peran; (4) menyiapkan pengamat; (5) menyiapkan pengamat; (6) tahap pemeranan; (7) diskusi dan evaluasi tahap diskusi dan evaluasi tahap I ; (8) pemeranan ulang; dan (9) diskusi dan evaluasi tahap II; dan (10) membagi pengalaman dan pengambilan keputusan.3.

Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning) Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning) merupakan model pembelajaran dengan melibatkan peserta didik secara aktif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran.

Dengan meminjam pemikiran Knowles, (E.Mulyasa,2003) menyebutkan indikator pembelajaran partsipatif, yaitu : (1) adanya keterlibatan emosional dan mental peserta didik; (2) adanya kesediaan peserta didik untuk memberikan kontribusi dalam pencapaian tujuan; (3) dalam kegiatan belajar terdapat hal yang menguntungkan peserta didik.

Pengembangan pembelajaran partisipatif dilakukan dengan prosedur berikut: Menciptakan suasana yang mendorong peserta didik siap belajar. Membantu peserta didik menyusun kelompok, agar siap belajar dan membelajarkan. Membantu peserta didik menyusun tujuan belajar.

  • Membantu peserta didik merancang pola-pola pengalaman belajar.
  • Membantu peserta didik melakukan evaluasi diri terhadap proses dan hasil belajar.4.
  • Belajar Tuntas (Mastery Learning) Belajar tuntas berasumsi bahwa di dalam kondisi yang tepat semua peserta didik mampu belajar dengan baik, dan memperoleh hasil yang maksimal terhadap seluruh materi yang dipelajari.

Agar semua peserta didik memperoleh hasil belajar secara maksimal, pembelajaran harus dilaksanakan dengan sistematis. Kesistematisan akan tercermin dari strategi pembelajaran yang dilaksanakan, terutama dalam mengorganisir tujuan dan bahan belajar, melaksanakan evaluasi dan memberikan bimbingan terhadap peserta didik yang gagal mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Tujuan pembelajaran harus diorganisir secara spesifik untuk memudahkan pengecekan hasil belajar, bahan perlu dijabarkan menjadi satuan-satuan belajar tertentu,dan penguasaan bahan yang lengkap untuk semua tujuan setiap satuan belajar dituntut dari para peserta didik sebelum proses belajar melangkah pada tahap berikutnya.

Evaluasi yang dilaksanakan setelah para peserta didik menyelesaikan suatu kegiatan belajar tertentu merupakan dasar untuk memperoleh balikan (feedback). Tujuan utama evaluasi adalah memperoleh informasi tentang pencapaian tujuan dan penguasaan bahan oleh peserta didik.

  • Hasil evaluasi digunakan untuk menentukan dimana dan dalam hal apa para peserta didik perlu memperoleh bimbingan dalam mencapai tujuan, sehinga seluruh peserta didik dapat mencapai tujuan,dan menguasai bahan belajar secara maksimal (belajar tuntas).5.
  • Pembelajaran dengan Modul (Modular Instruction) Modul adalah suatu proses pembelajaran mengenai suatu satuan bahasan tertentu yang disusun secara sistematis, operasional dan terarah untuk digunakan oleh peserta didik, disertai dengan pedoman penggunaannya untuk para guru.

Pembelajaran dengan sistem modul memiliki karakteristik sebagai berikut: Setiap modul harus memberikan informasi dan petunjuk pelaksanaan yang jelas tentang apa yang harus dilakukan oleh peserta didik, bagaimana melakukan, dan sumber belajar apa yang harus digunakan.

  1. Modul merupakan pembelajaran individual, sehingga mengupayakan untuk melibatkan sebanyak mungkin karakteristik peserta didik.
  2. Dalam setiap modul harus : (1) memungkinkan peserta didik mengalami kemajuan belajar sesuai dengan kemampuannya; (2) memungkinkan peserta didik mengukur kemajuan belajar yang telah diperoleh; dan (3) memfokuskan peserta didik pada tujuan pembelajaran yang spesifik dan dapat diukur.

Setiap modul memiliki mekanisme untuk mengukur pencapaian tujuan belajar peserta didik, terutama untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik dalam mencapai ketuntasan belajar. Pada umumnya pembelajaran dengan sistem modul akan melibatkan beberapa komponen, diantaranya : (1) lembar kegiatan peserta didik; (2) lembar kerja; (3) kunci lembar kerja; (4) lembar soal; (5) lembar jawaban dan (6) kunci jawaban.6.

Pembelajaran Inkuiri Pembelajaran inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia atau peristiwa) secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.

Joyce (Gulo, 2005) mengemukakan kondisi-kondisi umum yang merupakan syarat bagi timbulnya kegiatan inkuiri bagi siswa, yaitu : (1) aspek sosial di dalam kelas dan suasana bebas-terbuka dan permisif yang mengundang siswa berdiskusi; (2) berfokus pada hipotesis yang perlu diuji kebenarannya; dan (3) penggunaan fakta sebagai evidensi dan di dalam proses pembelajaran dibicarakan validitas dan reliabilitas tentang fakta, sebagaimana lazimnya dalam pengujian hipotesis.

Simpulan

Pendekatan pembelajaran adalah titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.

Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Metode merupakan langkah operasional dari strategi pembelajaran yang dipilih dalam mencapai tujuan belajar, sehingga bagi sumber belajar dalam menggunakan suatu metode pembelajaran harus disesuaikan dengan jenis strategi yang digunakan.

Teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual.

Saran

Untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

Para guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, yang kadang-kadang untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menermukan sumber-sumber literarturnya. Namun, jika para guru (calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.

REFERENSI Abin Syamsuddin Makmun.2003. Psikologi Pendidikan, Bandung: Rosda Karya Remaja. Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990. Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung. Udin S. Winataputra.2003. Strategi Belajar Mengajar,

Apakah anak autis bisa mengerti perintah?

5. Apakah anak Anda sensitif pada suara? – Rancangan Strategi Proses Pembelajaran Di Kelas Yang Terdapat Anak Autis Anak dengan autisme biasanya akan memberikan respon yang berlebihan ketika mendengar suara. Misalnya ketika mendengar suara hairdryer atau blender, sang anak bisa menangis bahkan guling-gulingan.6. Apakah anak Anda mengerti ketika diperintah? Anak dengan autisme sulit untuk mengerti apa yang Anda perintahkan.

Namun, bukan berarti Anda tidak perlu melatih mereka untuk mengikuti perintah. Karena perkembangan otak anak juga dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. “Anak kurang dari usia 2 tahun tidak boleh sama sekali berhadapan dengan gadget atau screentime. Sedangkan, anak usia 2-5 tahun hanya boleh 1 jam. Maka mereka harus diajarkan untuk menuruti perintah tersebut,” tutup Dr.

Handry. Reporter: Diviya Agatha Sumber: Liputan6.com Baca juga: Skoliosis pada Anak Juga Bisa Munculkan Gangguan Pernapasan Bukan Popok atau Susu Formula, Hal Ini yang Sebenarnya Dibutuhkan Bayi Saat Bencana Infeksi Telinga pada Masa Kecil Bisa Sebabkan Gangguan Pendengaran Saat Tua Perhatikan Cara Berjalan Anak untuk Ketahui Risiko Masalah Punggung Mereka Penggunaan Gadget Secara Berlebihan Ancam Kesehatan Otak Anak dan Remaja

Apakah semua anak autis harus mendapatkan semua jenis jenis terapi?

Anak Autis Butuh Penanganan yang Berbeda-beda (foto: Thinkstock) Jakarta – Setiap anak yang mengalami autisme itu unik, jadi penanganan autisme harus disesuaikan dengan kebutuhan anak. Intervensi atau penanganan autisme bisa dilakukan lewat perawatan, obat-obatan atau keduanya.Penanganan terhadap anak autis membutuhkan bantuan dari seluruh anggota keluarga dan dibantu oleh tim profesional.

  1. Dalam beberapa program penanganan dini, terapis datang ke rumah.
  2. Terapi yang diberikan dapat mencakup memberi pelatihan kepada orangtua untuk menangani anaknya yang mengidap autis di bawah pengawasan terapis.
  3. Program terapi lainnya bisa dilakukan di ruang kelas, kantor psikolog atau di prasekolah.Penanganan yang berbeda dan tepat akan mendukung anak untuk mengembangkan keterampilan sosialnya.

Ketika memasuki usia sekolah, anak-anak autis akan mendapatkan manfaat dari pelatihan keterampilan sosial dan terapi yang pernah diberikan sebelumnya. “Ada berbagai macam terapi dan pendekatan. Beberapa terapi autisme berfokus untuk mengurangi perilaku yang bermasalah dan mengembangkan komunikasi dan keterampilan sosial, sementara terapi lain menangani masalah integrasi sensorik, keterampilan motorik, masalah emosional, dan kepekaan terhadap makanan,” kata Melinda Smith, M.A dari UCLA Center for Autism Research & Treatment seperti dilansir Autismspeaks.org, Senin (2/4/2012).Orangtua tidak harus memilih 1 jenis terapi saja.

Tujuan pengobatan autisme adalah untuk mengobati semua gejala dan memenuhi kebutuhan anak. Untuk itu, dibutuhkan pendekatan kombinasi dari berbagai jenis terapi. Pengobatan autisme secara umum meliputi terapi perilaku, terapi wicara, terapi bermain, terapi fisik, terapi okupasi dan terapi gizi.Penelitian telah menunjukkan bahwa terapi perilaku yang intensif sejak dini akan meningkatkan kemampuan belajar, komunikasi dan keterampilan sosial anak autis.

Hasil terapi ini memang bervariasi, namun semua anak yang diterapi mendapatkan manfaatnya.Para peneliti telah mengembangkan sejumlah model intervensi dini yang efektif. Beberapa model ini berbeda-beda, tetapi memiliki ciri khas tertentu, yaitu1. Anak menerima terapi yang terstruktur selama minimal 25 jam per minggu.2.

Terapis yang terlatih bisa memberikan intervensi di bawah pengawasan seorang profesional yang berpengalaman.3. Terapi ini bertujuan mengajarkan kemampuan yang spesifik kepada anak. Kemajuan dalam mencapai target dievaluasi dan dicatat secara teratur.4. Intervensi berfokus pada aspek utama yang terkena autisme, misalnya: keterampilan sosial, bahasa dan komunikasi, imitasi, keterampilan bermain, kehidupan sehari-hari dan keterampilan motorik.5.

Program ini memberikan anak kesempatan untuk berinteraksi dengan teman-teman sebayanya6. Program ini secara aktif melibatkan orangtua dalam intervensi, baik dalam pengambilan keputusan dan melakukan terapi7. Para terapis menekankan pada nilai-nilai unik serta kebutuhan anak dan keluargaBanyak orang dengan autisme bisa hidup mandiri, bekerja secara produktif, menjalin hubungan dan menikmati hidupnya.Dengan intervensi yang baik dan tepat, anak yang mengidap autis bisa mendapat kehidupan yang layak, tak kalah dengan orang-orang pada umumnya.

Apakah anak autis tidak bisa fokus?

Saat kita fokus dan berkonsentrasi pada satu hal, maka hal-hal lain yang ada di sekitar bisa kita abaikan dengan mudah. Hal ini sangat mudah untuk dilakukan anak yang normal. Namun, tidak bagi anak dengan autisme, Tak hanya sulit dalam berkomunikasi, anak dengan autisme juga tidak bisa fokus akan suatu hal, khususnya yang tak mereka sukai.