Mengapa Diperlukan Metode Atau Rancangan Penelitian Dalam Suatu Penelitian?

Mengapa Diperlukan Metode Atau Rancangan Penelitian Dalam Suatu Penelitian
Pembuatan rancangan penelitian adalah merupakan suatu kegiatan ilmiah. Suatu penelitian memerlukan metode yang sesuai dengan permasalahan yang diteliti agar memperoleh data yang relevan dengan permasalahan yang ada. Oleh karena itu metode diperlukan dalam suatu penelitian.

Mengapa setiap peneliti perlu merancang masalah penelitian yang akan diteliti?

Pentingnya Perumusan Masalah dalam Penelitian Mengapa Diperlukan Metode Atau Rancangan Penelitian Dalam Suatu Penelitian JAKARTA – Salah satu etika dalam melakukan penelitian adalah jujur, mengakui, atas kelemahan penelitian yang dilakukan atau hasil penelitian yang didapatkan. Banyak hal penting yang harus ditentukan pada awal seseorang atau kelompok orang akan melakukan penelitian.

Salah satunya adalah menentukan rumusan masalah. Perumusan masalah merupaka “organ” penting sebuah penelitian. Dengan perumusan masalah, penelitian menjadi terfokus dan terarah, termasuk dalam menentukan jenis-jenis data yang dibutuhkan sesuai penelitian yang dilakukan. “Dalam penelitian, penting untuk menentukan permasalahan pokok.

Ketika sudah ditentukan permasalahan pokok, maka dapat dirincikan klasifikasi-klasifikasi permasalahannya”, demikian disampaikan oleh Dr. Salman Luthan, S.H.,MH., Hakim Agung MA RI, dalam advisory board meeting program yang dilaksanakan oleh ICJR pada hari Senin, 20 Februari 2012 di Hotel Morrissey Jakarta. Mengapa Diperlukan Metode Atau Rancangan Penelitian Dalam Suatu Penelitian Advisory board program meeting kali ini dihadiri oleh Salman Luthan dari Mahkamah Agung, Dindin Sudirman ; praktisi pemasyarakatan, Sidabutar dari Kejaksaan Agung mewakili Sesjampidum ; Widyopramono, Abdul Hakim Garuda Nusantara ; praktisi hukum, Hasril Hartanto ; akademisi, Syarifuddin dari Kepolisian, mewakili Kalemdikpol ; Oegroseno, Abdul Haris Semendawai, Ketua Badan Pengawas ICJR, dan para peneliti ICJR.

“Pertanyaan-pertanyaan yang dirumuskan dalam penelitian, harus menyatu dengan tujuan penelitian”, hal itu diungkapkan oleh Dindin Sudirman. “Dalam penelitian ini, menjadi penting yaitu pertanyaan tentang bagaimana kebijakan penahanan yang ada, dan bagaimana kebijakan pra peradilannya?”, sambung Dindin.

Abdul Hakim Garuda Nusantara menyambung, bahwa jika peneliti telah menentukan pertanyaan-pertanyaan besar, maka akan memudahkan penyusunan penulisan deskripsi. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menjadi deskripsi yang terfokus. Abdul Hakim juga meningatkan tentang penyajian data dalam teknik penulisan laporan penelitian.

Menurutnya, setiap data yang ditampilkan harus memiliki korelasi dengan pertanyaan-pertanyaan pokok, sehingga mendukung deskripsi secara baik. Bahasan pokok advisory board meeting kali ini memang untuk mendiskusikan bab metodologi yang telah disusun oleh tim peneliti ICJR. Disamping itu, pada meeting kali ini juga disampaikan tentang laporan awal penelitian wilayah Kupang dan Medan.

(ICJR/diani)

Apa manfaat membuat rancangan penelitian dalam penelitian sosial?

analisislah manfaat membuat rancangan penelitian sosial​ Jawaban & Penjelasan : Ada 5 manfaat membuat rancangan penelitian sosial sebagai berikut: 1. Rancangan Penelitian Merupakan Sebuah Rencana.2. Rancangan Penelitian Merupakan Sebuah Tujuan Penelitian.3. Rancangan Penelitian Berguna Untuk Struktur.4. Rancangan Penelitian Akan Memberikan Gambaran Tentang Kesulitan Dalam Penelitian.5.

pangkat akun lama si hebat 🙂 Tapi sudah di hapus sama Admin 🙂

: analisislah manfaat membuat rancangan penelitian sosial​

Kenapa seseorang harus membuat sebuah rancangan percobaan sebelum melakukan penelitian?

Sebelum percobaan dilakukan, Anda perlu merancang percobaan terlebih dahulu. Hal ini perlu diperhatikan karenauntuk menentukan alat dah bahan, penjabaran variabel, menentukan waktu percobaan, dan uji coba model percobaan. – Sebelum percobaan dilakukan, Anda perlu merancang percobaan terlebih dahulu.

Mengapa sebelum melakukan sebuah penelitian perlu memilih pendekatan dan metode penelitian terlebih dahulu?

Cara Memilih Pendekatan Penelitian Ketika melakukan sebuah penelitian, dibutuhkan yang namanya pendekatan penelitian guna membantu peneliti dalam menjawab permasalahan yang diangkat. Memilih pendekatan penelitian yang tepat menjadi suatu hal yang bisa dibilang cukup susah mengingat akan menentukan kualitas hasil penelitian yang ditulis.

  1. Dalam memilihnya, lebih disarankan jika kamu sudah mengetahui beberapa jenis pendekatan penelitian dan memahami betul perbedaan diantara masing-masing pendekatan.
  2. Hal ini berguna untuk memudahkan dalam mencocokkan jenis pendekatan dengan penelitian yang sedang dikerjakan.
  3. Apabila kamu sudah cukup memahami tentang jenis yang ada, namun masih cukup kesulitan dalam memilih, berikut akan disajikan beberapa tahapan dalam memilih pendekatan yang tepat.

Mari simak selengkapnya.

Jelaskan apa yang dimaksud dengan rancangan penelitian?

Rancangan penelitian merupakan rencana menyeluruh dari penelitian mencakup hal-hal yang akan dilakukan peneliti mulai dari membuat hipotesis dan implikasinya secara operasional sampai pada analisa akhir, data yang selanjutnya disimpulkan dan diberikan saran.

Mengapa kita perlu mempelajari rancangan percobaan?

Pentingnyamembuat rancangan percobaansebelum melakukan percobaan yakni untukmenentukan perlakuan-perlakuan seperti apa yang harus didesain sehingga tujuan dalam penelitian dapat dijawab. Selain itu juga, dengan membuat rancangan percobaan akan membuat peneliti mudah untuk melakukan pengendalian lingkungan di luar percobaan.

Komponen-komponen yang perlu dituliskan dalam rancangan percobaan antara lain : Memformulasikan rencana penelitian. Disini termasuk pernyataan singkat dari masalah yang harus dijawab dan tujuan penelitian. Peneliti ingin mempelajari apa dan bagaimana. Memilih faktor-faktor yang akan digunakan. Harus dipertimbangkan kisaran dan nilai-nilai faktor.

Untuk mencerminkan dampak dari suatu faktor, perlu penelitian dilakukan pada berbagai taraf. Memilih variabel yang diukur. Suatu variabel diukur jika memberikan informasi tentang fenomena yang sedang diteliti (diamati). Menentukan ruang lingkup inferensia.

Menentukan gugus populasi dimana inferensia akan dilakukan. – Pentingnya membuat rancangan percobaan sebelum melakukan percobaan yakni untuk menentukan perlakuan-perlakuan seperti apa yang harus didesain sehingga tujuan dalam penelitian dapat dijawab. Selain itu juga, dengan membuat rancangan percobaan akan membuat peneliti mudah untuk melakukan pengendalian lingkungan di luar percobaan.

Komponen-komponen yang perlu dituliskan dalam rancangan percobaan antara lain :

Memformulasikan rencana penelitian. Disini termasuk pernyataan singkat dari masalah yang harus dijawab dan tujuan penelitian. Peneliti ingin mempelajari apa dan bagaimana. Memilih faktor-faktor yang akan digunakan. Harus dipertimbangkan kisaran dan nilai-nilai faktor. Untuk mencerminkan dampak dari suatu faktor, perlu penelitian dilakukan pada berbagai taraf. Memilih variabel yang diukur. Suatu variabel diukur jika memberikan informasi tentang fenomena yang sedang diteliti (diamati). Menentukan ruang lingkup inferensia. Menentukan gugus populasi dimana inferensia akan dilakukan.

Mengapa seorang peneliti harus menyusun rancangan penelitiannya terlebih dahulu sebelum melakukan penelitian lebih lanjut?

Sebelum melakukan penelitian, seorang peneliti hendaknya membuat rancangan penelitian terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan agar penelitian dapat berjalan dengan baik. Rancangan penelitianbiasanya berisi tentang susunan data penelitian, biasanya dihasilkan dan dikumpulkan melalui instrumen pengumpulan data, observasi maupun dokumentasi.

  • Manfaat menyusun rancangan penelitian adalahdapat berfungsi sebagai batas sebuah penelitian.
  • Ini berhubungan dengan tujuan penelitian.
  • Apabila tujuan penelitian tidak dirumuskan dengan jelas, maka penelitian yang akan dilakukan tidak akan menemukan pangkal atau ujungnya.
  • Jadi, jawaban yang tepat adalah C – Sebelum melakukan penelitian, seorang peneliti hendaknya membuat rancangan penelitian terlebih dahulu.

Hal ini dikarenakan agar penelitian dapat berjalan dengan baik. Rancangan penelitian biasanya berisi tentang susunan data penelitian, biasanya dihasilkan dan dikumpulkan melalui instrumen pengumpulan data, observasi maupun dokumentasi. Manfaat menyusun rancangan penelitian adalah dapat berfungsi sebagai batas sebuah penelitian.

Apa yang harus diperhatikan dalam menentukan metode penelitian yang akan digunakan?

Hal yang perlu diperhatikan dalam metode penelitian yaitu pendekatan dan metode, lokasi dan waktu penelitian, subjek penelitian, prosedur penelitian instrumen penelitian, serta analisis dan interpretasi data.

Mengapa memilih masalah untuk diteliti merupakan tahap yang penting dalam melaksanakan penelitian?

Pentingnya Masalah Dalam Penelitian

  • Penelitian dapat dilihat sebagai proses yang mencakup dua tahap: penemuan masalah dan pemecahan masalah.
  • Penemuan masalah merupakan tahap penelitian yang paling sulit dan krusial, karena masalah penelitian mempengaruhi strategi yang akan diterapkan dalam pemecahan penelitian. Tahap penemuan masalah penelitian meliputi:
  1. Identifikasi bidang masalah,
  2. Penentuan atau pemilihan pokok masalah (topik), dan
  3. Perumusan atau formulasi masalah.

Einstein dan Infeld (1938): formulasi masalah penelitian sering merupakan tahap penelitian yang jauh lebih esensial dibandingkan dengan tahap pemecahan masalah. Isaac dan Michael (1989): formulasi masalah penelitian dengan baik merupakan setengah dari tahap pemecahan masalah.

  1. Penentuan konsep-konsep teoritis yang ditelaah, dan
  2. Pemilihan metode pengujian data.

Semakin spesifik perumusan masalah penelitian semakin mudah untuk dilakukan pengujian secara empiris. Mengingat pentingnya tahap penemuan masalah penelitian, perlu pendekatan sistematis untuk merumuskan masalah penelitian yang baik sehingga memudahkan tahap pemecahan masalah. : Pentingnya Masalah Dalam Penelitian

Mengapa suatu penelitian harus dimulai dengan adanya suatu masalah?

Penelitian berangkat dari masalah karena penelitian bertujuan untuk memecahkan masalah. Penelitian yang sistematis diawali dengan suatu persoalan. John Dewey menyatakan bahwa langkah pertama dalam suatu metode ilmiah adalah pengakuan adanya kesulitan, hambatan atau masalah yang membingungkan peneliti (Ary, Jacobs, dan Razavieh, 1982: 73).

Ibarat sebuah tanya jawab, masalah merupakan pertanyaan yang jawabannya akan dicari dalam proses penelitian. Meneliti adalah usaha mendapatkan jawaban dari masalah yang dihadapi. Manusia memiliki rasa ingin tahu, sehingga selalu mencari tahu apa yang tidak diketahuinya. Masalah mencerminkan ketidaktahuan.

Penelitian merupakan usaha manusia mengusahakan ketidaktahuan dapat berubah menjadi pengetahuan. Pengetahuan yang diperoleh melalui kegiatan penelitian akan mempersempit wilayah ketidaktahuan karena sudah menjadi pengetahuan manusia. Kedudukan masalah dalam penelitian sangat penting.

  1. Pemecahan masalah setengahnya ditentukan oleh kebenaran dalam perumusan masalahnya.
  2. Tidak dapat diharapkan pemecahan masalah dari pertanyaan yang salah.
  3. Pertanyaan masalah akan menentukan metode penelitian, cara pengumpulan data jenis data dan teknik analisis data yang akan digunakan.
  4. Untuk itu bagian ini dibahas mengenai masalah dan perumusannya dalam penelitian.

PENGERTIAN MASALAH Seperti telah dikemukakan bahwa pada dasarnya penelitian itu dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan data yang antara lain dapat digunakan untuk memecahkan masalah. Untuk itu setiap penelitian yang akan dilakukan harus selalu berangkat dari masalah.

  1. Seperti dinyatakan oleh Emory (1985) bahwa, baik penelitian murni maupaun terapan, semuanya berangkat dari masalah, hanya untuk penelitian terapan, hasilnya langsung dapat digunakan unruk membuat keputusan.
  2. Jadi setiap penelitian yang akan dilakukan harus selalu berangkat dari masalah, walaupun diakui bahwa memilih masalah penelitian sering merupakan hal yang paling sulit dalam proses penelitian (Tuckman, 1985).

Bila dalam penelitian telah dapat menemukan masalah yang betul-betul masalah, maka sebenarnya pekerjaan penelitian itu 50% telah selesai. Oleh karena itu menemukan masalah dalam penelitian merupakan pekerjaan yang tidak mudah, tetapi setelah masalah dapat ditemukan, maka pekerjaan penelitian akan segera dapat dilakukan.

You might be interested:  Apa Saja Yang Termasuk Dalam Rancangan Strategi Implementasi Bisnis?

Prof. Dr. Sugiyono: 52) Masalah berhubungan dengan kesenjangan (gap) yang harus diisiatau sekurangnya dipersempit. Masalah menimbulkan celah (void) ruang ketidaktahuan. Masalah adalah kesenjangan antara harapan (das sollen) dengan kenyataan (das sein), antara keebutuhan dengan yang tersedia, antara yang seharusnya (what should be) dengan yang ada (what it is) (Suryabrata, 1994: 60).

Penelitian dimaksudkan untuk menutup kesenjangan (what can be). Kesenjangan masalah menimbulkan kebutuhan untuk menutupnya dengan mencari jawaban atas pertanyaan yang menimbulkan kesenjangan. Kegiatan menutup kesenjangan dilakukan dengan penelitian. Dengan kata lain, penelitian mencari sesuatu jawaban yang belum diketahui, memenuhi kebutuhan yang belum tersedia, dan menyediakan yang belum ada.

Sumber masalah

Masalah dapat berasal dari berbagai sumber. Menurut James H. MacMillan dan Schumacher (Hadjar, 1996: 40-42), masalah dapat bersumber dari observasi, dedukasi dari teori, ulasan kepustakaan, masalah sosial yang sedang terjadi, situasi praktis dan pengalaman pribadi.

  1. Masing-masing dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Observasi Observasi merupakan sumber yang kaya masalah penelitian.
  2. Ebanyakan keputusan praktis didasarkan atas praduga tanpa didukung oleh data empiris.
  3. Masalah penelitian dapat diangkat dari hasil observasi terhadap hubungan tertentu yang belum mempunyai dasar penjelasan yang memadai dan cara-cara rutin yang dalam melakukan suatu tindakan didasarkan atas otiritas atau tradisi.

Penyelidikan mungkin menghasilkan teori baru, rekomendasi pemecahan masalah praktis dan mengidentifikasi variabel yang belum ada dalam bahasan litelatur.2) Dedukasi dari teori Teori merupakan konsep-konsep yang masih berupa prinsir-prinsip umum yang penerapannya belum dapat diketahui selama belum diuji secara empiris.

Penyelidikan terhadap masalah yang diangkap dari teori berguna untuk mendapatkan penjelasan empiris praktik tentang teori.3) Kepustakaan Hasil penelitian mungkin memberikan rekomendasi perlunya dilakukan penelitian ulang (replikasi) baik dengan atau tanpa variasi. Replikasi dapat meningkatkan validitas hasil penelitian dan kemampuan untuk digeneralisasikan lebih luas.

Laporan penelitian sering juga menyampaikan rekomendasi kepada peneliti lain tentang apa yang perlu diteliti lebih lanjut. Hal ini juga menjadi sumber untuk menentukan masalah yang menentukan masalah yang perlu diangkat untuk diteliti.4) Masalah sosial Masalah sosial dapat pula menjadi sumber masalah penelitian.

  1. Misalnya: seringnya menjadi perkelahian siswa antar sekolah dapat memunculkan pertanyaan tentang efektivitas pelaksanaan pendidikan moral dan agama serta pembinaan sikap disiplin.
  2. Banyaknya pengangguran lulusan perguruan tinggi menimbulkan pertanyaan tentang kesesuaian kurikulum dengan kebutuhan masyarakat.5) Situasi praktis Dalam pembuatan keputusan tertentu, sering mendesak untuk dilakukan penelitian evaluatif.

Hasil sangat diperlukan untuk dijadikan dasar pembuatan keputusan lebih lanjut.6) Pengalaman pribadi Pengalaman pribadi dapat memunculkan masalah yang memerlukan jawaban empiris untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam.(Purwanto, M.pd:109-111) Menurut Suryabrata (1994:61-63), sumber-sumber masalah yang dapat diidentifikasi meliputi: 1) Bacaan terutama hasil penelitian Rekomendasi untuk penelitian lebih lanjut dapat menjadi sumber identifikasi masalah.

  1. Tidak pernah ada penelitian yang tuntas.
  2. Penelitian selalu menampilkan masalah yang lebih banyak dari pada yang dijawabnya, karena dengan demikian ilmu pengetahuan selalu mengalami kemajuan.2) Diskusi, seminar, pertemuan ilmiah Diskusi, seminar dan pertemuan ilmiah dapat menjadi sumber masalah penelitian karena para peserta dapat melihat hal-hal yang dipersoalkan secara profesional sehingga muncul masalah.3) Pernyataan pemegang otoritas (dalam pemerintahan dan ilmu pengetahuan).

Pernyataan pemegang otoritas dapat menjadi sumber masalah, baik otoritas pemerintahan maupun ilmu pengetahuan. Contoh pernyataan pemegang otoritas pemerintahan adalah pernyataan menteri pendidikan mengenai daya serap siswa SMU. Contoh pernyataan otoritas ilmu pengetahuan adalah pernyataan ahli pendidikan mengenai penjurusan di SMU.4) Pengamatan sepintas Pengamatan sepintas dapat menjadi sumber masalah.

Misalnya, ahli kesehatan menemukan masalah ketika menyaksikan dari mana penduduk mendapatkan air minum.5) Pengalaman pribadi Pengalaman pribadi sebagai sumber masalah penelitian berkaitan dengan sejarah perkembangan dan kehidupan dengan sejatah perkembangan dan kehidupan pribadi atau profesional. (Purwanto, M.

Pd: 111-112 ) Masalah dapat diartikan sebagai penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi, antara teori dengan praktek, antara aturan dan pelaksanaan, antara rencana dengan pelaksanaan. Stonner (1982) mengemukakan bahwa masalah-masalah dapat diketahui atau dicari apabila terdapat penyimpangan antara pengalaman dengan kenyataan, antara apa yang direncanakan dengan kenyataan, adanya pengaduan, dan kompetisi.

  • A) Terdapat penyimpangan antara pengalaman dengan kenyataan.
  • Di dunia ini yang tetap hanya perubahan, namun sering perubahan itu tidak diharapkan oleh orang-orang tertentu, karena akan dapat menimbulkan masalah.
  • Orang yang biasanya menjadi pemimpin pada bidang pemerintahan harus berubah ke bidang pendidikan.

Hal ini pada awalnya tentu akan muncul masalah. Orang atau kelompok yang biasanya mengelola pendidikan dengan sistem sentralisasi lalu berubah menjadi desentralisasi, atau dengan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) maka akan muncul masalah. Orang biasanya menulis menggunakan mesin ketik manual harus ganti dengan komputer, maka akan muncul masalah.

Apakah masalahnya sehingga perlu ada perubahan. Apakah masalahnya dengan sistem sentralisasi, sehingga perlu berubah menjadi sistem desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan, apakah masalahnya sehingga kebijakan pendidikan selalu berubah, ganti menteri ganti kebijakan? Apakah masalahnya setelah terjadi perubahan? b) Terdapat penyimpangan antara apa yang telah direncanakan dengan kenyataan.

Suatu rencana yang telah ditetapkan, tetapi hasilnya tidak sesuai dengan tujuan dari rencana tersebut, maka tentu ada masalah. Mungkin masih ingat bahwa pada era orde baru direncanakan pada tahun 2000 Bangsa Indonesia akan tinggal lantas tetapi ternyata tidak, sehingga muncul masalah.

Dengan adanya reformasi diharapkan harga-harga akan turun, ternyata tidak, sehingga timbul masalah. Direncanakan dengan adanya penataran pengawasan melekat, maka akan menjadi penurunan dalam jumlah KKN, tetapi ternyata tidak sehingga timbul masalah. Dengan kebijakan MBS, kualitas pendidikan akan meningkat, tetapi ternyata belum terlihat.

Apakah masalahnya sehingga apa yang telah direncanakan tidak menghasilkan kenyataan. Jadi untuk menemukan masalah dapat diperoleh dengan cara melihat dari adanya penyimpangan antara yang direncanakan dengan kenyataan. c) Adanya pengaduan. Dalam suatu organisasi sekolah yang tadinya tenang tidak ada masalah, ternyata setelah ada pihak tertentu yang mengadukan produk maupun pelayanan yang diberikan, maka timbul masalah dalam organisasi itu.

Pikiran pembaca yang dimuat dalam koran atau majalah yang mengadukan kualitas produk atau pelayanan suatu lembaga pendidikan, dapat dipandang sebagai masalah, karena diadukan lewat media sehingga banyak orang yang menjadi tahu akan kualitas produk dan kualitas pelayanan yang diberikan. Dengan demikian orang tidak akan membeli lagi atau tidak menggunakan jasa lembaga itu lagi.

Demonstrasi yang dilakukan oleh sekelompok orang terhadap suatu sekolah atau perguruan tinggi juga dapat menimbulkan masalah. Dengan demikian masalah penelitian dapat digali dengan cara menganalisis isi pendaduan. d) Ada kompetisi. Adanya saingan atau kompetisi sering dapat menimbulkan masalah besar, bila tidak dapat memanfaatkan untuk kerja sama.

  1. Perusahan Pos dan Giro merasa mempunyai masalah setelah ada biro jasa lain yang menerima titipan surat, titipan barang, ada hand phone yang dapat digunakan untuk SMS, internet, e-mail.
  2. Perusahan Kereta Api memandang angkutan umum jalan raya dengan Bus sebagai pesaing, sehingga menimbulkan masalah.
  3. Tetapi mungkin PT.

Telkom kurang mempunyai masalah karena tidak ada perusahaan lain yang memberikan jasa yang sama lewat telepon kabel, tetapi menjadi masalah setelah ada saingan telepon genggam (hand phone). Dalam pendidikan, lembaga-lembaga pendidikan yang selama ini unggul di dalam negeri, akan timbul masalah setelah ada perguruan tinggi asing boleh beroperasi di Indonesia.

  • Dalam proposal penelitian, setiap masalah harus ditunjukkan dengan data.
  • Misalnya penelitian tentang SDM, maka masalah SDM, harus ditunjukkan dengan data.
  • Masalah SDM misalnya, jumlah SDM yang terbata, jenjang pendidikan yang rendah, kompetensi dan produktivitas yang masih rendah.
  • Data masalah dapat diperoleh dari hasil pengamatan pendahuluan terhadap hasil penelitian orang lain, atau dari dokumentasi.

Data yang diberikan harus up to date, lengkap dan akurat. Jumlah data masalah yang dikemukakan tergantung pada jumlah variabel penelitian yang ditetapkan untuk diteliti. Kalau penelitian berkenaan dengan 5 variabel, maka data masalah yang dikemukakan minimal 5.

Tanpa menunjukkan data, maka masalah yang dikemukakan dalam penelitian tidak akan dipercaya. Pada tabel 2.1 berikut diberikan contoh data tentang masalah SDM di Indonesia, yang menduduki rangking 110 dari 179 negara. Ini menjadi masalah karena yang diharapkan SDM yang berkualitas tinggi tetapi kenyataannya SDM yang ada kualitasnya lebih rendah bila dibandingkan dari negara-negara lain.

Tabel 2.1 Human development index asean + 3 negara

No. Country Life expectancy (years) Adult literacy rate (%) Gros enrolment ratio (%) GDP Per-capita (PPP US$) HDI Rank
1. Singapure 78,7 92,5 87 24,481 25
2. Brunei 76.4 92,7 74 19,210 33
3. Malaysia 73,2 88,7 71 9,512 61
4. Thailand 70,0 92,6 73 7,595 73
5. Philippanes 70,4 92,6 82 4,321 84
6. Vietnam 70,5 90,3 64 2,490 108
7. Indonesia 66,8 87,9 66 3,361 110
8. Myanmar 60,2 89,7 48 1,027 129
9. Cambodia 56,2 73,6 59 2,078 130
10. Lao pdr 54,7 68,7 61 1,759 133
11. Japan 82,0 84 27,967 11
12. Korea 77,0 97,9 93 17,971 28
13. China 71,6 90,9 69 5,003 85

Source: UNDP – Human Development Report 2005. (Prof. Dr. Sugiyono:52-55) JENIS-JENIS M ASALAH Menurut jenisnya, masalah dapat dibedakan menjadi tiga. Pertama, masalah deskriptif. Masalah deskriptif adalah masalah yang mendeskripsikan satu variabel pada satu kelompok tanpa menghubungkan dengan variabel yang lain ayau membandingkan dengan kelompok lain.

a. Permasalahan deskriptif

Permasalahan deskriptif merupakan suatu permasalahan yang berkenaan dengan variabel mandiri, baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel yang berdiri sendiri). Jadi dalam penelitian ini peneliti tidak membuat perbandingan variabel itu pada sampel yang lain, dan mencari hubungan variabel itu dengan variabel yang lain.

  • Penelitian semacam ini untuk selanjutnya dinamakan penelitian deskriptif.
  • Contoh permasalahan deskriptif: 1) Seberapa baik kinerja Departemen Pendidikan Nasional? 2) Bagaimanakah sikap masyarakat terhadap perguruan tinggi negeri Berbadan Hukum? 3) Seberapa tinggi e fektivita s kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah di Indonesia? 4) Seberapa tinggi tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan pelayanan pemerintah daerah di bidang pendidikan? 5) Seberapa tinggi tingkat produktifitas dan keuntungan finansial Unit Produksi pada Sekolah-sekolah kejuruan? 6) Seberapa tinggi minat baca dan lama belajar rata-rata per hari murid-murid sekolah di Indonesia? Dari beberapa contoh di atas terlihat bahwa setiap pertanyaan penelitian berkenaan dengan satu variabel atau lebih secara mandiri( bandingkan dengan masalah komparatif dan asosiatif).

Penelitian yang bermaksud mengetahui kinerja Departemen Pendidikan Nasional, sikap masyarakat terhadap perguruan tinggi berbadan hukum, efektivitas kebijakan MBS, tingkat produktivitas dan keuntungan finansial Unit Produksi pada Sekolah-sekolah Kejuruan; minat baca dan lama belajar rata-rata per hari murid-murid sekolah di Indonesia adalah contoh penelitian deskriptif.

Permasalahan Komparatif

Permasalahan Komparatif adalah rumusan masalah penelitian yang membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda, atau pada waktu yang berbeda. Contoh perumusan masalahnya adalah sebagai berikut.1) Adakah perbedaan prestasi belajar antara murid dari sekolah negeri dan swasta? (variabel penelitian adalah prestasi belajar pada dua sampel yaitu sekolah negeri dan swasta) 2) Adakah perbedaan disiplin kerja guru antara sekolah di Kota dan di Desa? (satu variabel dua sampel) 3) Adakah perbedaan, motivasi belajar dan hasil belajar antara murid yang berasal dari keluarga Guru, Pegawai Swasta dan Pedagang? (dua variabel tiga sampel) 4) Adakah perbedaan kompetensi profesional guru dan kepala sekolah antara SD, SMP, dan SLTA.

Permasalahan Asosiatif

Permasalahan Asosiatif adalah rumusan masalah penelitian yang bersifat menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih. Terdapat tiga bentuk hubungan yaitu: hubungan simetris, hubungan kausal, dan interaktif/resiprocal/timbal balik.1) Hubungan simetris Hubungan simetris adalah suatu hubungan antara dua variabel atau lebih yang kebetulan munculnya bersama.

Adakah hubungan antara jumlah es yang terjual dengan jumlah kejahatan terhadap murid sekolah? (variabel pertama adalah penjualan es dan ke dua adalah kejahatan ) Hal ini berarti yang menyebabkan kejahatan bukan karena es yang terjual. Mungkin logikanya adalah sebagai berikut. Pada saat es banyak terjual itu pada musim liburan sekolah, pada saat murid-murid banyak yang piknik ke tempat wisata. Karena banyak murid yang piknik maka di situ banyak kejahatan. Adakah hubungan antara rumah yang dekat rel kereta api dengan jumlah anak ? Adakah hubungan antara warna rambut dengan kemampuan memimpin sekolah ? Adakah hubungan antara jumlah payung yang terjual dengan jumlah murid sekolah ? e. Adakah hubungan antara banyaknya radio di pedesaan dengan jumlah penduduk yang sekolah ?

Contoh judul penelitiannya adalah sebagai berikut.

Hubungan antara jumlah es yang terjual dengan jumlah kejahatan terhadap murid sekolah. Hubungan antara rumah yang dekat rel kereta api dengan jumlah anak. Hubungan antara warna rambut dengan kemampuan memimpin sekolah. Hubungan antara banyaknya radio di pedesaan dengan jumlah penduduk yang sekolah.

2) Hubungan kausal Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab akibat. Jadi disini ada variabel independen (variabel yang mempengaruhi) dan dependen (dipengaruhi), contoh: a) Adakah pengaruh pendidikan orang tua terhadap prestasi-prestasi belajar anak? (pendidikan orang tua variabel independen dan prestasi belajar variabel dependen).

B) Seberapa besar pengaruh kepemimpinan kepala SMK terhadap kecepatan lulusan memperoleh pekerjaan? (kepemimpinan variabel independen dan kecepatan memperoleh pekerjaan variabel dependen). c) Seberapa besar pengaruh tata ruang kelas terhadap efisiensi penbelajaran di SMA ? d) Seberapa besar pengaruh kurikulum, media pendidikan dan kualitas guru terhadap kualitas SDM yang dihasilkan dari suatu sekolah? (kurikulum, media, dan kualitas guru sebagai variabel independen dan kualitas SDM sebagai variabel dependen).

Contoh judul penelitiannya: a) Pengaruh pendidikan orang tua terhadap prestasi-prestasi belajar anak di SD Kabupaten Alengkapura. b) Pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap kecepatan lulusan memperoleh pekerjaan pada SMK di Provinsi Indrakila. c) Pengaruh kurikulum, media pendidikan dan kualitas guru terhadap kualitas SDM yang dihasilkan dari suatu sekolah.3) Hubungan interaktif/resiprocal/timbal balik Hubungan interaktif adalah hubungan yang saling mempengaruhi.

Di sini tidak diketahui mana variabel independen dan dependen, contoh: 1) Hubungan antara motivasi dan prestasi belajar anak SD di kecamatan A, Di sini dapat dinyatakan motivasi mempengaruhi prestasi tetapi juga prestasi dapat mempengaruhi motivasi.2) Hubungan antara kecerdasan dengan kekayaan, Kecerdasan dapat menyababkan kaya, demikian juga orang yang kaya dapat meningkatkan kecerdasan karena gizi terpenuhi.

(Prof. Dr. Sugiyono: 55-60) RUMUSAN MASALAH Penelitian ibarat sebuah dialog atau tanya jawab. Dalam dialog, jawaban diberikan kepada pertanyaan yang diajukan. Kualitas jawaban sangat ditentukan oleh ketetapan pertanyaannya. Pertanyaan itu adalah masalah yang hendak diusahakan pemecahannya melalui penelitian.

  1. Jawaban adalah pemecahan masalah berdasarkan atas data-data yang dikumpulkan dalam proses penelitian.
  2. Oleh karenanya, kualitas pemecahan masalah sangat tergantung kepada kecepatan perumusan masalahnya.
  3. Perumusan masalah adalah memformulasikan masalah penelitian ke dalam rumusan kalimat tanya.
  4. Perumusan dalam bentuk kalimat tanya dimaksudkan agar penelitian berada dalam keadaan siap untuk melakukan kegiatan guna memberikan pemecahan masalah.

Perumusan masalah merupakan kegiatan yang penting. Dari pertanyaan yang salah tidak dapat diharapkan jawaban yang benar. Pertanyaan yang berbeda mengarahkan pada kegiatan dan jawaban yang berbeda. Kebenaran jawaban setengahnya ditentukan oleh ketepatan formulasi pertanyaan masalah.

  1. Perumusan masalah harus memuat beberapa karakteristik.
  2. Menurut Bass, Dunn, Norton, Stewart, dan Tudiver (1972: 20), perumusan masalah harus mengandung empat karakteristik, yaitu: (1) memuat hubungan variabel, (2) dinyatakan secara jelas dan tidak ambigu dalam bentuk pertanyaan, (3) memungkinkan pengumpulan data untuk menjawab pertanyaan, (4) tidak menyatakan posisi moral atau etik.1) Memuat hubungan variabel.

Perumusan masalah harus dengan jelas memperlihatkan variabel yang hendak ditangani dalam penelitian. Di samping itu, penelitian juga harus menjelaskan apa yang hendak dilakukan atas variabel. Dengan menetapkan variabel dan hubungannya, maka penelitian tidak bersifat eksploratif dan berangkat dari keadaan kosong.

Peneliti berada dalam keadaan siap mencari jawaban dan tidak spekulatif. Pertanyaan yang baik tidak sekedar dibuat, tapi juga ditemukan.2) Dinyatakan secara jelas dan tidak ambigu dalam bentuk pertanyaan. Perumusan masalah adalah pertanyaan penelitian yang akan dicari jawabannya sehingga harus dirumuskan dala kalimat tanya.

Rasa ingin tahu manusia ditandai dengan pengajuan pertanyaan. Masalah dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya untuk menunjukkan semangat rasa ingin tahu. Dengan merumuskan masalah dalam bentuk kalimat tanya maka peneliti berada dalam posisi siap untuk melakukan langkah-langkah untuk mencari tahu jawabannya.

  • Pertanyaan masalh mendorong peneliti untuk merancang desain, menentukan metode, memilih teori, merancang alat ukur pengumpulan data, dan merancang teknik yang diperlukan untuk menganalisis data yang dikumpulkan.3) Memungkinkan pengumpulan data untuk menjawab pertanyaan.
  • Masalah harus dapat diuji secara empiris.

Hal itu mengandung implikasi bahwa variabel-variabel yang hendak diuji hubungannya harus memungkinkan pengumpulan data. Kemungkinan pengujian empiris mempunyai implikasi bahwa masalah menyatakan pengujian hubungan dan memungkinkan pengukuran variabel (Kerlinger,1996: 29).

  1. Penelitian kuantitatif mengharuskan kesimpulan terbuka untuk diverifikasi.
  2. Esempatan untuk melakukan verifikasi dapat diperoleh bila pengumpulan data dilakukan secara objektif, empiris, dapat diamati dan terukur.
  3. Untuk itu masalah harus dirumuskan dengan cara tertentu yang melibatkan variabel yang memungkinkan pengumpulan data.4) Tidak menyatakan posisi moral atau etik.

Pertanyaan ilmiah haruslah netral. Masalah moral atau etik terkait dengan penilaian baik-buruk, indah-jelek, dan sebagainya, yang sarat dan moralistik. Misalnya: guru yang baik, siswa yang sukses, metode mengajar yang efektif, dan sebagainya. Pertanyaan demikian bukan pertanyaan yang baik prosedur validasinya sukar karena konsensus sulit dicapai dan kriteriannya kontroversial.

  1. Ilmu haruslah bebas nilai dan nertal supaya tidak bias.
  2. Penelitian kuantitatif mengejar kebenaran yang bersifat positif, objektif, bebas nilai, terukur, dapat diamati, serta dapat diuji.
  3. Oleh karenanya masalah yang dirumuskan tidak boleh valuatif dan moralistik.
  4. Etika, norma dan moral sangat terikat pada budaya sehingga kriterianya kontroversial.

Oleh karena masalah terikat pada budaya maka hukum umum dan universal yang menjadi tujuan penelitian tidak dapat dicapai. Contoh perumusan masalah Berikut dicontohkan kegiatan perumusan masalah dalam penelitian berjudul: “Hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa SMU di Surakarta Tahun 2007”.

1. Latar belakang masalah

Latar belakang masalah dapat memuat informasi mengenai:

Rendahnya prestasi belajar siswa Indonesia di tingkat dunia dan rendahnya indeks sumber daya manusia Indonesia. Tingginya angka pengangguran terdididk yang mencerminkan rendahnya pengakuan dunia kerja terhadap lulusan sekolah. Masih tingginya angka ketidaklulusan siswa pada Ujian Nasional di Surakarta. Rendahnya motivasi belajar melahirkan mental pendidikan yang asal lulus dan rendahnya budaya kompetisi.

2. Identifikasi masalah

Sejumlah masalah yang mempunyai potensi berhubungan dengan prestasi belajar dapat diidentifikasi sebagai berikut:

Hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar. Hubungan antara konsep diri dengan prestasi belajar. Hubungan antara status sosial ekonomi dengan prestasi belajar. Hubungan antara gaya hidup dengan prestasi belajar. Hubungan antara minat belajar dengan prestasi belajar. Hubungan antara sikap terhadap mata pelajaran dengan prestasi belajar. Hubungan antara fasilitas belajar dengan prestasi belajar.

3. Perbatasan masalah

Dari sejumlah masalah yang diidentifikasi, penelitian mambatasi pada “hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar”.

4. Perumusan masalah

Berdasarkan pada masalah yang dibatasi, maka dapat dirumuskan masalah: (1). Apakah terdapat hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar? Dan (2). Berapa besar sumbangan motivasi belajar terhadap prestasi belajar? ( Purwaanto, M. Pd.) Rumusan masalah adalah salah satu tahap yang penting dalam penetuan tahap-tahap penelitian selanjutnya.

Rumusan masalah dikatakan baik bila dapat menjadi petunjuk dalam pengumpulan data dan sinkron dengan tujuan penelitian. Terdapat tiga macam rumusan masalah, yakni: 1) Rumusan masalah deskriptif Rumusan masalah deskriptif merupakan rumusan masalah yang berkenaan dengan pernyataan tergadap keberadaan variabel mandiri.

Baik hanya pada satu variabel atau lebih. Contoh: Berapa lama daya tahan lampu pijar merek A. Sehingga dapat diperoleh hipotesis deskriptif HO daya tahan lampu pijar merek A sama dengan 700 jam. Dan diperoleh Ha daya tahan lampu pijar merek A tidak sama dengan 700 jam.2) Rumusan masalah komparatif Rumusan masalah komparatif merupakan rumusan masalah yang dalam penelitiannya membandingkan variabel (satu atau lebih) pada smpel atau waktu yang berbeda.

Rumusan masalah dirumuskan dalam bentuk pertanyaan. Rumusan masalah jelas dan padat. Rumusan masalah berisikan implikasi adanya data untuk memecahkan masalah. Rumusan masalah merupakan dasar dalam membuat hipotesa.

Senada dengan pendapat tersebut diatas Nazir(1988:143) mengemukakan bahwa:

Masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan. Rumusan masalah hendaknyajelas dan padat. Rumusan masalah berisikan implikasi adanya data untuk memecahkan masalah. Rumusan masalah merupakan dasar dalam membuat hipotesa. Masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian.

Lebih lanjut lagi Nazir (1988:144-145) mengemukakan bahwa terdapat dua cara dalam memformulasikan masalah. Pertama, dengan cara menurunkan masalah dari teori yang ada. Dan kedua, mengadakan observasi secara langsung di lapangan. Setelah masalah tersebut diformulasikan maka langkah selanjutnya adalah mambuat tujuan penelitian. Tujuan penelitian adalah sebuah pernyataan tentang apa yang ingin dicari atau yang ingin ditentukan. Tujuan penelitian disini haruslah dinyatakan secara lebih spesifik dari pada perumusan masalah. Jadi masalah merupakan konsep yang masih abstrak, maka tujuan penelitian haruslah lebih konkrit.(Idtesis. Com > home > metode penelitian) KESIMPULAN Masalah merupakan celah kosong yang menjadi wilayah ketidaktahuan manusia. Penelitian dilakukan untuk mengisi kekosongan dan mengubah wilayah ketidaktahuan menjadi pengetahuan. Perumusan masalah merupakan kegiatan yang sangat menentukan dalam penelitian, sebab masalah yang dirumuskan akan mengarahkan semua kegiatan penelitian. Perumusan masalah ditentukan dengan menempuh prosedur yang berurutan mulai dari mendeskripsikan latar belakang masalah, mengidentifikasi masalah, membatasi masalah dan merumuskan masalah. Masalah yang dirumuskan harus memenuhi empat syarat yaitu menyatakan hubungan variabel, dirumuskan menggunakan kalimat tanya, memungkinkan pengumpulan data dan tidak menyatakan posisi moral atau etik. Judul penelitian ditentukan setelah peneliti merumuskan masalahnya. Judul dapat ditentukan lebih dulu apabila peneliti sudah merumuskan dalam pikirannya tentang masalah penelitian. DAFTAR PUSTAKA Prof. Dr. Sugiyono.2012. Metode Penelitian Pendidikan (pendekatan kualitatif, kuantitatif dan R dan D). ALFABETA: Bandung Purwanto, M. Pd,2010. Metodologi penelitian kuantitatif untuk Psikologi dan Pendidikan. Pustaka pelajar: yogyakarta _ Oleh: Endah Dewi L. (disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Metodologi Penelitian, dosen pengampu Afid Burhanuddin, M.Pd.)

Apakah setiap penelitian harus diawali dengan masalah?

Pada dasarnya penelitian itu dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan data yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah. Untuk itu setiap melakukan penelitian, harus terlebih dahulu memiliki sebuah masalah. Dimana masalah yang ada akan dicari kembali secara ilmiah untuk mendapatkan data dan kegunaan tertentu.

Masalah dapat diartikan sebagai penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi baik secara teori maupun secara praktek. Adanya jenis-jenis permasalahan akan dapat menjadi acuan tentang masalah yang akan diteliti dan mempermudah perumusan masalah. Perumusan masalah merupakan suatu pertanyaan atau rasa keingin tauan peneliti yang akan dicari jawabannya melalui pengumpulan data.

PENGERTIAN MASALAH Memilih dan merumuskan masalah penelitian merupakan langkah awal yang paling utama untuk memulai proses penelitian, menurut John Dewey langkah awal dalam memulai metode ilmiah adalah pengakuan akan adanya kesulitan, hambatan atau masalah yang membingungkan peneliti.

  • Masalah adalah suatu yang paling penting dalam melakukan proses penelitian.
  • Proses penelitian yang akan dilakukan haruslah berangkat dari masalah.
  • Seperti yang dinyatakan oleh Sugiyono (2005), apapun bentuk penelitian, baik penelitian murni maupun terapan, semuanya berangkat dari masalah untuk menemukan solusi yang dapat digunakan sebagai keputusan.

Oleh sebab itu, Madrie dalam Sudjarwo (2001:1) menyatakan bahwa hakikat masalah itu adalah kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Pada hakikatnya masalah penelitian merupakan suatu pertanyaan yang perlu dicari jawabannya, atau segala bentuk hambatan, kesulitan atau rintangan yang muncul dalam suatu bidang yang diteliti yang perlu dihindari dan disingkirkan untuk dicari solusi atau jawabannya.

  1. Eberadaan suatu masalah merupakan syarat mutlak yang tidak bisa ditawar-tawarkan dalam melakukan penelitian.
  2. Penelitian muncul selalu berawal dari adanya suatu masalah yang timbul dilapangan maupuan suatu yang masih menjadi pertanyaan bagi peneliti dan masyarakat.
  3. Masalah merupakan tempat awal berpijak untuk melakukan penelitian, untuk selanjutnya dipecahkan melalui langkah-langkah yang sistematis seperti yang ada dalam sebuah penelitian ilmiah.

Masalah yang akan diteliti hendaklah jelas, konkrit yang memerlukan solusi penyelesaian sehingga mendapat keputusan atau hasil penelitian. Sebagian besar peneliti pemula menganggap bahwa penelitian berawal dari penetapan judul. Anggapan ini tidak benar karena penelitian berawal dari aktivitas menemukan masalah, apabila masalah telah ditemukan maka upaya penyusunan judul merupakan hal yang paling mudah dilakukan.

Misalnya pada saat melakukan wawancara kepada siswa dalam menemukan masalah prestasi belajar, siswa dapat memberikan informasi prestasi belajar mereka sangat rendah. Informasi selanjutnya menunjukkan bahwa prestasi belajar mereka rendah akibat minimnya tenaga pengajar serta sarana dan prasarana belajar yang tidak memadahi.

Rendahnya prestasi belajar dikarenakan minimnya tenaga pengajar serta sarana dan prasarana tersebut merupakan sebuah masalah yang dapat diteliti dan dijadikan bahan menyusun judul. Masalah yang sering muncul bagi peneliti adalah memilih masalah dari beberapa masalah.

Masalah bisa timbil dalam rangkaian masalah yang begitu kompleks untuk dipisahkan satu persatu. Pemilihan masalah adalah pelit atau rumit dan sangat sulit bagi peneliti. Hal itu dikarenakan kebanyakan masalah yang dihadapi dalam bidang sain sosial dan pendidikan masih pada tahap konsep dan gagasan. Dengan kata lain adalah masalah yang timbul masih hanya sebatas peringkat pemikiran.

Pemilihan masalah dan perumusan masalah dalam penelitian merupakan salah satu aspek yang paling penting dalam memulai penelitian dibidang apa saja. JENIS JENIS PERMASALAHAN Rumusn masalah penelitian pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi tiga bentuk, yaitu permasalahan Deskriptif, Komparatif dan Asosiatif.

Permasalahan Deskriptif

Permasalahan deskriptif yaitu suatu permasalahan yang tidak membandingkan dan tidak menghubungkan dengan variabel lain hanya menggambarkan variabel saja (Riduwan, 2009). Sedangkan menurut Sugiono, 1994 dalam bukunya hal 36-39 Permasalahan deskriptif adalah suatu masalah yang berkenaan dengan variabel mandiri, yaitu tanpa membuat perbadingan dan menghubungkan antar variabel.

    Bagaimana peran mahasiswa dalam menuntut keadilan di pihak kampus? Seberapa tinggi motivasi belajar mahasiswa Bimbingan Konseling? Sejauh mana evaluasi peningkatan hasil prestasi Bimbingan konseling semester 5?

    Permasalahan Komparatif

Permasalahan komparatif adalah suatu permasalahan penelitian yang bersifat membandingkan keberadaan suatu variabel pada dua sampel atau lebih (Sugiono, 1994). Dengan kata lain permasalahan komparatif adalah permasalahan yang menggambarkan perbedaan karakteristik dari dua variabel atau lebih (Riduwan, 2009).

Apakah terdapat perbedaaan prestasi belajar antara peserta didik yang berasal dari kota dan berasal dari desa?

Keterangan: penelitian ini membahas satu variabel dengan dua sampel.

Mana yang lebih tinggi prestasi siswa anak guru dengan anak wiraswasta? Adakah perbedaan kemampuan berkomunikasi antara siswa yang berasal dari SMA Negeri dengan siswa yang berasal dari SMA swasta?

Permasalahn Asosiatif

Bentuk rumusan masalah assosiatif atau korelasional memiliki sifat yang menghubungkan dua variabel atau lebih, baik dengan cara korelasi sejajar (seperti kemampuan berbahasa inggris dengan penguasaan perbendaharaan kata) maupun korelasi sebab akibat (seperti tinggi rendahnya prestasi belajar dengan motivasi belajar). Adapun menurut sifat hubungannya terdiri dari tiga jenis yaitu:

Hubungan simetris

Hubungan simetris ialah hubungan yang bersifat kebersamaan antara dua variabel atau lebih. Contoh :

Bagaimana hubungan postur tubuh seseorang dengan gaya kepemimpinan? Sejauh mana hubungan antara keaktifan mengikuti kegiatan organisasi dengan tingginya prestasi belajar?

Hubungan kausal. hubungan kausal atau sebab akibat adalah hubungan yang menunjukkan sebab akibat yang bersifat mempengaruhi antara dua variabel atau lebih. Dengan demikian ada variabel independen (bebas) dan variabel dependen (terikat).

Hubungan interaktif. hubungan interaktif adalah hubungan yang saling mempengaruhi. Dalam jenis ini tidak diketahui mana variabel bebas dan mana variabel terikat.

CARA MERUMUSKAN MASALAH Rumusan masalah adalah kalimat pertanyaan atau pernyataan yang menanyakan hubungan apakah yang terdapat antara dua variabel atau lebih (Kerlinger, 2001, hal.28-29). Apabila masalah telah teridentifikasi dan peneliti telah membatasi hal-hal apa saja yang akan diteliti maka langkah berikutnya adalah merumuskan masalah penelitian, Rumusan masalah penelitian merupakan petunjuk yang mengarahkan peneliti untuk memformulasikan secara ringkas, jelas dan tajam tentang permasalahan utama yang ada di latar belakang, identifikasi masalah penelitian.

  1. Masalah yang hendak diteliti hendaknya dirumuskan dalam bentuk kalimat pertanyaan atau pernyataan dan bersifat spesifik atau rumusan masalah dapat diformulasikan dalam sebuah pertanyaan atau pernyataan penelitian.
  2. Pertanyaan atau pernyataan ini nantinya akan terjawab setelah ada hasil penelitian yang diperoleh dari pembahasan/analisa (Indriantoro dan Supomo, 1999, hal.49; Umar, 2001).

Menurut Fraenkel dan Wallen dalam Sugiono (2005:34) mengemukakan bahwa masalah penelitian yang baik adalah sebagai berikut:

Masalah itu harus dapat dicari solusi atau jawabannya melalui sumber yang tidak banyak menghabiskan dana, tenaga dan waktu. Masalah harus jelas, semua orang memberikan pandangan yang sama tentang masalah tersebut. Masalah harus signifikan, jawaban dari masalah itu haruslah memberi kontribusi terhadap pengembangan ilmu dan solusi bagi masalah manusia. Masalah bersifat etis, yakni tidak berkenaan dengan etika, moral, nilai-nilai keyakinan dan agama. Mungkin tidak etis melakukan penelitian tentang agama.

Seperti terlihat dalam laporan-laporan masalah harus fleksibel, maknanya penelitian bahwa perumusan masalah diawali dengan adanya eksplorasi masalah penelitian yang dideskripsikan peneliti didalam latar belakang masalah, kemudian membuat intisarinya dalam identifikasi masalah (Umar, 2001) baik secara identifikasi teoritis maupun empiris, membatasi masalah yang telah teridentifikasi, merumuskan masalah yang telah dibatasi, dan diakhiri dengan tujuan penelitian sesuai dengan masalah yang telah diformulasikan dalam rumusan masalah.

Masalah harus dirumuskan dengan jelas dan tidak bermakna ganda atau memungkinkan adanya tafsiran lebih dari satu. Langkah awal sebelum masalah dirumukan maka peneliti dapat melakukan pengkajian awal sebagai latar belakang masalah, yang memuat aktivitas masalah dan menggali hal-hal yang dirasa penting untuk dijadikan suatu kajian penelitian.

Relevansi dengan latar belakang masalah yang ada, maka langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi masalah, sebagai kegiatan mengumpulkan berbagai masalah yang ada dalam objek penelitian atau bahkan masalah yang ada di luar penelitian. Selanjutnya berbagai masalah yang telah teridentifikasi dibatasi pada ruang lingkup yang lebih sempit, faktor atau variabel yang sangat dominan atau kuat melatar belakangi masalah.

  1. Masalah yang telah dibatasi lalu dirumuskan secara spesifik, agar masalah dapat terjawab secara akurat.
  2. Rumusan masalah dapat diformulasikan dalam sebuah pertanyaan penelitian.
  3. Seterusnya dilanjutkan memformulasikan kepada hipotesis penelitian sebagai jawaban sementara dari rumusann masalah.
  4. Dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan baru didasarkan teori yang relevan, belum didasari oleh data yang empiris dan didapatkan dari pengumpulan data.

Tuckman dalam Sugiono (2005:34) menyatakan rumusan masalah yang baik adalah menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih. Adapun bentuk rumusan masalah dan hipotesis penelitian dapat dikembangkan berdasarkan penelitian menurut tingkat eksplanasinya, karena pada dasarnya hasil penelitian nanti digunakan untuk menjelaskan fenomena-fenomena atau gejala-gejala serta peristiwa berdasarkan data yang terkumpul.

  • Dalam merumuskan masalah secara spesifik teori memainkan peranan penting yang menghubungkan dengan variabel-variabel yang hendak diteliti.
  • ESIMPULAN Setiap penelitian pasti bertitik tolak dari suatu masalah.
  • Etika akan melakukan penelitian, pertama yang harus dicari adalah masalahnya,bukan apa judulnya.

Satu masalah bisa melahirkan banyak judul tetapi satu judul hanya berisi satu masalah. Setiap permasalahan berupa sebuah pertanyaan yang harus dicari jawabannya. Sehingga munculah rumusan masalah yang merupakan pemetaan faktor atau variabel yang terkait dengan fokus masalah.

Adanya rumusan masalah akan menjadi petunjuk bagi penulis untuk memformulasikan secara ringkas, jelas dan tajam tentang permasalahan yang akan diteliti. Sehingga peneliti bisa dengan jelas mendapatkan jawaban dari masalah yang diteliti. DAFTAR PUSTAKA Arifin, Zainal, (2011) Penelitian Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Iskandar, (2009) Penelitian Tindakan Kelas, Ciputat: Gaung Persada. Sukmadinata, Nana S. (2011) Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya. _ Oleh: Hesti Ratna Dewi (disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Metodologi Penelitian, dosen pengampu Afid Burhanuddin, M.Pd.)